Budidaya Ikan Nila di Kolam Air Deras
Kolam air deras (KAD) merupakan kolam tempat pembesaran ikan yang airnya mengalir secara terus-menerus dalam jumlah tertentu. Teknologi ini berasal dari Jepang dan diperkenalkan di Indonesia pada awal tahun 1980-an.
Usaha pembesaran nila di kolam air deras dimulai sekitar tahun 2000 sebagai pengganti kegiatan pembesaran ikan mas yang surut akibat Koi Herpes Virus (KHV) pada tahun 2002.
Kelebihan ikan nila dengan warna daging yang putih dan tidak terdapat duri halus menjadikan ikan tersebut lebih disukai. Sehingga dibutuhkan dalam jumlah yang besar, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun pasar ekspor.
Kolam air deras membutuhkan debit air yang relatif besar. Air yang masuk ke dalam kolam dengan aliran deras dimaksudkan untuk meningkatkan daya dukung wadah dalam menunjang pertumbuhan ikan yang dibudidayakan.
Kelebihan dari aliran air yang deras adalah sebagai berikut :
1. Kadar Oksigen terlarut dalam air berada pada tingkat yang jenuh, sehingga oksigen terlarut dalam air berlimpah.
2. Tingginya kadar oksigen terlarut memungkinkan kepadatan ikan yang dibudidayakan relatif tinggi, sehingga dapat mendukung peningkatan produksi dan produktivitas.
3. Sisa makanan dan kotoran ikan mudah terbawa aliran air ke luar kolam sehingga menghindari pembusukan dalam kolam yang dapat berpengaruh pada pertumbuhan ikan.
Pemilihan Lokasi
untuk memulai usaha pembesaran ikan di kolam air deras, pemilihan lokasi budidaya dilakukan dengan beberapa pertimbangan, baik dari aspek teknis, ekonomis maupun sosial.
B. Kriteria Teknis
1. Jenis Tanah
Tekstur tanah perlu diperhatikan dalam penentuan lokasi. Tekstur yang baik adalah tanah liat dengan sedikit pasir (3:2), dimana air tidak cepat merembes ke luar sehingga kolam tidak bocor.
Perlu dipertimbangkan tingkat kemiringan lahan, yaitu perbedaan derajat kemiringan antara saluran pemasukan dan pengeluaran maksimal sebesar 1% serta kestabilan tanah terhadap perubahan gejala alam (geologi). Lokasi budidaya harus disesuaikan dengan Rencana Umum Tata Ruang Perikanan (RUTR Perikanan).
2. Air
Sumber
Faktor dominan yang menentukan keberhasilan budidaya nila di KAD adalah kualitas, kuantitas dan kontinuitas air. Air dibutuhkan dalam jumlah banyak, dengan kualitas baik dan secara terus-menerus.
Sumber air dapat dibedakan menjadi 2 (dua) golongan yaitu air permukaan dan air tanah. Air permukaan adalah air yang mengalir masuk ke kolam mengikuti arah gravitasi misalnya air hujan, air sungai, airdanau dan mata air. Air tanah yang berasal dari sumur, baik sumur artesis maupun sumur dalam.
Kualitas
Pengelolaan kualitas air penting untuk mendukung pertumbuhan dan reproduksi ikan yang dibudidayakan. Lingkungan perairan berpengaruh terhadap kesehatan ikan. Kondisi yang tidak sesuai akan menimbulkan stres sehingga ikan mudah terserang penyakit. Nila merupakan jenis ikan yang relatif toleran terhadap rendahnya kualitas air dibandingkan ikan budidaya lainnya.
• Konsentrasi oksigen terlarut
Nilai oksigen terlarut sangat penting bagi parameter kualitas air karena oksigen dibutuhkan dalam berbagai aktivitas fisik ikan. Kandungan oksigen optimum yang dapat menunjang pertumbuhan ikan adalah 5 mg/l.
• Karbondioksida (CO2)
Konsentrasi karbondioksida yang tinggi dapat menekan aktivitas pernafasan ikan sehingga menimbulkan stress bagi ikan. Kadar CO2 tidak boleh lebih dari 15 ppm.
• Suhu Air
Suhu air sangat berpengaruh terhadap kesehatan ikan. Ikan mempunyai batas suhu tinggi dan rendah serta suhu optimal untuk pertumbuhan, inkubasi telur, konversi makanan dan resistensi/ketahanan terhadap penyakit tertentu. Batas optimum suhu sangat bergantung pH, kandungan oksigen dan faktor lain seperti ketinggian tempat, kedalaman air dan cuaca. Suhu optimal untuk pertumbuhan adalah 28-32°C.
• pH
Nila dapat tumbuh dengan baik pada perairan dengan kisaran pH 5-10. Namun pH optimum yang dapat menunjang perkembangan dengan baik adalah 6,5-8.
Ammonia (NH3)
Sisa pakan berlebih merupakan sumber ammonia. Pada pH tinggi, ammonia menjadi bentuk tak terion yang beracun. Perubahan mendadak dapat mengakibatkan insang rusak. Nafsu makan ikan dan pertumbuhan akan terhambat pada konsentrasi 0,08 mg/l dan kematian akan terjadi pada 0,1 mg/l.
• Alkalinitas dan sistem buffer : Fluktuasi (perubahan) alkalinitas yang cukup drastis akan membahayakan ikan. Kejadian itu dapat dicegah bila perairan mempunyai sistem buffer yang memadai (mengandung mineral bikarbonat, bikarbonat, borat dan silikat).
• Bahan Organik : kandungan bahan organik dalam jumlah yang tinggi dapat mencemari lingkungan karena mengakibatkan turunnya kadar oksigen, meningkatnya CO2 dan kekeruhan.
• Kekeruhan : mempengaruhi daya ikat air terhadap oksigen. Air keruh menyebabkan ikan kekurangan oksigen, nafsu makan berkurang, batas pandang ikan berkurang serta tertutupnya insang oleh partikel lumpur.
Kuantitas
Budidaya ikan di kolam air deras memerlukan air dalam jumlah yang banyak. Hal ini disebabkan ukuran wadah relatif kecil dibandingkan padat tebar benih yang tinggi, sehingga memerlukan kadar oksigen terlarut yang tinggi dan dapat dipenuhi dengan pemasukan air yang cukup banyak secara terus menerus (kontinyu). Jumlah air yang optimum dapat ditentukan dengan menghitung debit air yang masuk ke dalam kolam.
Debit air dihitung dari hasil pembagian volume kolam dengan waktu yang diperlukan untuk mengisi kolam kosong hingga penuh. Debit air yang optimum adalah sejumlah air yang masuk untuk memenuhi volume kolam dalam waktu 10 menit.
Kontinuitas
Ketersediaan air untuk kolam air deras harus sepanjang tahun dalam jumlah yang memadai. Pada musim kemarau tidak kekurangan dan pada musim hujan tidak banjir.
Kriteria Ekonomis
Lahan yang digunakan dapat menunjang keberlangsungan usaha budidaya, antara lain akses jalan dan pasar. Kemudahan transportasi dapat memperlancar penyediaan sarana dan prasarana budidaya. Kemudahan memasarkan hasil panen ke pasar bahkan pembeli langsung dapat memberi tambahan keuntungan bagi pembudidaya.
Kriteria Sosial
Area budidaya hams memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar, antara lain meningkatnya pengetahuan dan keterampilan masyarakat, kesempatan usaha dan penyerapan tenaga kerja, serta memenuhi kebutuhan protein hewani. Pemberdayaan masyarakat di sekitar lokasi dapat menjamin keamanan areal budidaya dan keberhasilan usaha.
Kontruksi Kolam
Kontruksi kolam dibangun sedemikian rupa sehingga mampu menahan dan menampung air dalam debit dan jumlah besar. Kolam air deras dapat dibuat secara permanen. Kolam permanen menggunakan bahan utama semen, pasir, batu dan batu bertulang dengan proses pengecoran.
• Dinding bagian dalam kolam dibuat relatif halus untuk mencegah kerusakan ikan akibat gesekan dengan dinding karena ikan nila mempunyai kebiasaan menggesek bagian tubuhnya ke dinding. Campuran bahan perekat pembentukan lapisan dalam dinding harus kuat untuk mengurangi kemungkinan bocor.
• Kemiringan dasar kolam untuk mempermudah pembuangan endapan, pengeringan dan pemanenan ke arah pintu pembuangan utama.
• Sebagai pelengkap dibuat juga bak penampungan sekaligus penyaring (filter). Bak penampungan berfungsi sebagai tempat persediaan air, penampungan ikan hasil panen serta penyaring dari berbagai kotoran. Sebagai pembagi air, bak penampungan ini sebaiknya ditempatkan pada saluran masuk dari saluran Saluran pembagi air dibuat untuk menunjang kelancaran distribusi air dari bak penampung menuju kolam pemeliharaan. Tata letak dan desain diusahakan tidak menghambat pergerakan air yang menuju kolam. Saluran air sebaiknya dibuat memanjang dan lurus searah kolam pemeliharaan.
Bentuk kolam air deras dapat berupa segi empat, segi tiga, bulat dan oval.
1. Kolam segi tiga
Pergantian air yang cepat memungkinkan kolam mempunyai kejenuhan O2 terlarut yang tinggi pada air permukaan. Namun tidak terdistribusi dengan Baik pada bagian dasar kolam. Inilah yang menyebabkan ikan cenderung bergerak di dekat pemasukan air. Pengaruhnya akan nyata pada ukuran ikan hasil panen yang beragam karena persaingan tempat dan kebutuhan oksigen serta pakan yang sangat tinggi.
2. Kolam segi empat
Kolam segi empat mempunyai titik aliran air yang mati yaitu pada sudut-sudut kolam tempat akumulasi berbagai polutan Berupa partikel lumpur, sisa pakan dan kotoran ikan. Kolam ini potensial terjadi pengendapan kecuali air yang masuk relatif bening. Pengendapan dikurangi dengan membuat pintu masuk dan keluar air seukuran dengan lebar kolam agar padatan terdorong keluar dari kolam.
3. Kolam Bulat
Kolam berbentuk bulat relatif baik digunakan namun tidak efisien dalam penggunaan lahan. Area yang digunakan relatif luas karena terdapat lahan tersisa pada beberapa tempat di antara bangunan perkolaman yang ada.
4. Kolam oval
Kelebihan yang dimiliki adalah tidak terdapat titik mati pada hampir semua sudut kolam, sehingga mendukung pergerakan air masuk serta difusi dan penyebaran O2 terlarut dan kecil kemungkinan terakumulasi bahan polutan. Bentuk oval juga memberikan efektifitas dan efisiensi pada hampir seluruh kegiatan pemeliharaan yaitu meningkatnya konversi pakan, kepadatan serta produktifitas kolam. Aktivitas ikan merata pada seluruh bagian kolam, sehingga pada saat pemberian pakan dan kegiatan lain ikan tidak bergerombol. Hal ini pada akhirnya akan meningkatkan produktivitas budidaya.
Teknik Pembesaran
1. Wadah dan Alat
Kolam berukuran 8 x 2 x 2 m dengan volume air 25 m2 sebanyak 12 buah, dengan peralatan yang diperlukan antara lain 2 buah hapa untuk panen dengan mesh size 5 mm berukuran 2 x 2 x 1 m2, scoop net/ lambit 4 buah dan 1 buah jaring.
2. Persiapan kolam
- Pembersihan dan pengeringan kolam agar lebih higienis setelah panen total
- Penjemuran kolam selama 2-3 hari untuk mengurangi kelembapan kolam dan mematikan lumut yang tumbuh pada dasar atau dinding kolam.
- Perendaman dengan larutan KMn04 (kalium permanganat) sebanyak 2 gram/m3 selama 2-3 hari.
- Pengisian dengan air yang baru sesuai ketinggian air yang diperlukan.
3. Penebaran benih
- Sebelum ditebar (jika diperlukan) benih disucihamakan dengan direndam dalam larutan kalium permanganat konsentrasi 4-5 ppm dalam waktu 15-30 menit.
- Adaptasi suhu, agar suhu air pada wadah kemasan ikan sama dengan suhu air kolam, yaitu dengan cara wadah kemasan benih direndam dalam air selama beberapa waktu sebelum ditebar ke dalam wadah.
- Penebaran benih sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari.
- Benih ikan berukuran 20 gram/ekor dengan padat tebar 100 ekor/m2 atau 50 gram/ekor dengan padat tebar 20 ekor/m2 atau 1000 ekor/kolam.
4. Pemberian Pakan
Pakan yang diberikan berupa pellet dengan kandungan protein 26-28 %. Pemberian secara berkala dengan dosis 3-4% dari bobot total ikan/hari. Frekuensi pemberiannya, 3 kali sehari (pagi, siang dan sore).
Dengan patokan dosis tersebut, maka bobot pakan per hari dapat berubah seiring dengan penambahan bobot ikan dalam kolam. Penambahan bobot tersebut sering disebut dengan pertumbuhan. Besarnya pertumbuhan dapat diketahui melalui teknik sampling (mengambil beberapa ekor ikan dan menimbang bobotnya). Bobot total ikan dalam kolam adalah perkalian antara bobot rata-rata ikan yang disampling dengan jumlah ikan yang dipelihara.
Penyesuaian jumlah pakan disesuaikan dengan hasil sampling bobot total ikan yang dilakukan dua pekan sekali.
Pembesaran nila untuk mencapai ukuran 100 hingga 20 ekor/kg mortalitasnya relatif rendah. Pada tahapan selanjutnya yaitu 20 hingga 2 ekor/kg biasanya terjadi kematian yang cukup tinggi akibat gesekan antar ikan yang menimbulkan luka. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi kematian ikan yaitu :
- Pemilihan pakan/pelet jenis terapung
- Pemberian pakan menyebar, tidak terkonsentrasi pada area tertentu.
5. Panen
Panen dilakukan dengan cara menyurutkan air hingga ikan dapat ditangkap dengan mudah. Apabila ikan akan diangkut jarak jauh dalam keadaan hidup maka sehari sebelumnya ikan diberok (tidak diberi pakan)
Untuk tujuan pasar lokal, ukuran panen rata-rata 350 gram/ekor. Sedangkan untuk tujuan ekspor, waktu pemeliharaan mencapai 4 bulan hingga ukuran ikan minimal 500 gram per ekor.
Padat tebar, ukuran benih dan ukuran panen dapat dilihat dalam tabel berikut :
UKURAN BENIH PADAT TEBAR SINTASAN WAKTU UKURAN PANEN
20 gram/ekor 100 ekor/ m2 90% 4 bulan 400 g/ekor
50 gram/ekor 20 ekor/m2 70 % 3-3,5 bulan 500 gram/ekor
PENGELOLAAN KESEHATAN IKAN DAN LINGKUNGAN
Sumberdaya hayati perairan perlu dikelola agar tetap lestari, yaitu dengan berupaya menghindari pencemaran lingkungan perairan serta menerapkan teknologi budidaya yang berawawasan lingkungan.
Penyakit parasitik yang menyebabkan kematian nila dibagi dalam 3 (tiga) kelompok yaitu penyakit bakterial, jamur dan protozoa.
1. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri
Belum pernah terjadi kematian massal akibat bakteri. Jenis penyakit, bakteri penyerang, gejala dan pengendalian terinci dalam tabel berikut:
Penyakit Jenis Gejala Pengobatan Cara
Bakteri
hemorhagic
septicemia Aeromonas
hydrophylla
Pendarahan
luka bernanah,
mata menonjol,
perut menggembung, - oxytetracycline 50 ppm
- oxytetracycline 10 ppm
- imequil 5 ppm
- Baytril 7 ppm
- Tetramydn 0,5 ml/kg
- KmnOj 4ppm
- campur pakan
- rendam 24 jam
- rendam 24 jam
- rendam
- disuntikkan
- rendam 24 jam
Fish
lurunculosis Aeromonas
salmonicida Tubuh melempuh, luka busuk/borok
Penyakit pseudomonas Pseudomona
fluorescents Pendarahan.perut
kembung.mata menonjol, luka
bernanah
2. Penyakit yang disebabkan oleh jamur
Jamur mudah menyerang pada perairan tercemar, mengandung lumpur dan bahan organik terlarut, tidak pernah dikeringkan atau dikapur. Jamur (umumnya Saprolegnia sp) tumbuh pada bagian tubuh ikan yang sebelumnya terinfeksi parasit lain. Ikan menjadi kurus, nafsu makan turun, dan sering menggosokkan badan sehingga penularan makin cepat. Luka terinfeksi tampak ditumbuhi benang putih seperti jumbai, akhirnya membusuk dan menyebabkan kematian. Pengobatan dengan merendam dalam ‘arutan garam dapur 10 ppt (10 g/liter) selama 15 menit.
3. Penyakit yang disebabkan Protozoa
Trichodina sp dan Epystylis sp dapat menyebabkan kematian. Gejala serangan Epystylis sp adalah pendarahan dan terdapat eksresi serta produksi berlebih pada bagian tubuh tertentu. Pengendalian dengan pengeringan kolam serta penggantian air secara teratur. Pengobatan dengan perendaman KMN04 20 ppm selama 24 jam.
Trichodina sp bergerak aktif dalam air dan mudah menular melalui sentuhan dengan ikan maupun alat yang digunakan. Pengendalian dilakukan dengan pengelolaan air yang baik serta pemberian pakan tambahan bergizi dalam jumlah cukup. Pengobatan dilakukan dengan perendaman larutan garam dapur (NaCI) 0,5 – 1 ppt selama 24 jam.
PELUANG USAHA
Ikan nila dapat dijual sebagai ikan konsumsi atau diolah untuk meningkatkan nilai jualnya yaitu menjadi abon ikan, bahan baku bumbu penyedap masakan, fillet, baso dan aneka produk olahan lainnya. Pasar ekspor untuk ikan nila masih sangat terbuka.
Harga fillet ikan nila adalah 1,55 hingga 1,6 dolar AS. Pasar potensial adalah Amerika Serikat, Eropa dan Asia. Saat ini pengekspor fillet nila terbesar di Asia adalah China, Filipina dan Taiwan, selain Afrika yang dapat menjual ikan nila hasil tangkapan dengan harga murah. Sedangkan Indonesia berada pada urutan ke delapan dengan jumlah ekspor 50.000 ton.
ANALISIS USAHA
Analisa usaha budidaya nila dengan benih hasil sex reversal ukuran 20 gram/ekor, padat tebar 2500 ekor/kolam, waktu pemeliharaan 4 bulan/MT, bobot panen 400 gram/ekor. Sintasan (Survival Rate) 90 %, produksi ikan 900 kg/kolam/MT, FCR (Food Conversion Ratio) 1,3 dapat digambarkan sebagai berikut :
A. Biaya Investasi
1. Beli lahan 250m2 @ Rp 15.000 = 250 x 15.000 = 3.750.000
2 Pembuatan kolam
12buah @ 8x2x2 m = 12 x 3.200.000 = 38.400.000
42.150.000
B. Biaya Variabel 12 kolam 3MT 156.544.000
1 Benih = 90.000 x 100 = 9.000.000
2 Pakan 1.170 kg = 42.120 x 3,400 = 143.208.000
3 Peralatan Perikanan
Happa 2 buah 2x2x1 m = 2 x 32,000 = 64,000
Scoop net, 4 buah = 4 x 10,000 = 40,000
Jaring 1 buah uk 25 m2 = 1 x 32,000 = 32,000
4 TenagaKerjal org x 12 bl = 12 x 350,000 = 4,200,000
C. Biaya Tetap 1.920.000
1 Penyusutan Kolam 20 tahun = 1/20 x 38.400.000 = 1.920.000
D. Total Biaya Produksi
B + C 158.464.000
E. Pendapatan
900 kg x 12 kolam x 3 MT = 32.400 x 7,000 = 226.800,000
F Keuntungan
E – D 68.336.000
B/C Ratio = Penerimaan total/ Biaya total
= 1.43
Setiap Rp. 1,00 yang dikeluarkan, akan mendapat penerimaan Rp. 1,43
Cash Flow = keuntungan+biayapenyusutan
= Rp. 70.256.000,00
Pay Back Period = (BiayaInvestasi + BiayaVariabel): cashflow (dalam tahun)
= 2,83 tahun
Biaya per kg = Total biaya produksi: total panen
= Rp. 4.890,86
Rentabilitas Ekonomi
= (Keuntungan : (Biaya investasi* Biaya Variabel) x 100 %
= 34,39 %
Break Event Point (BEP) atau titik impas
= Biaya tetap: (1 -(biaya variabel/Pendapatan)
= 1.920.000:0.31
= Rp.6.193.548,39
BEP volume (kg)
= Total Biaya Produksi: harga jual per kg
= 22.637 kg per tahun
Artinya titik impas usaha dicapai pada hasil ika’n min 22.637 kg per tahun
BEP harga (Rp/kg)
= Total Biaya Produksi: total produksi
= 4.890 kg per tahun
Artinya titik impas usaha dicapai pada harga minimal Rp. 4.890 /kg
Sumber: Buku Budidaya Ikan Nila di Kolam Air Deras, Ditjen. P. Budidaya
tolong informasi desain kolam ikan air deras yang baik.