<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sutan Muda Site [SMS]</title>
	<atom:link href="http://sutanmuda.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sutanmuda.wordpress.com</link>
	<description>aku dan pemikiranku...</description>
	<lastBuildDate>Wed, 23 Jul 2008 06:29:15 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='sutanmuda.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/bbfd53e27c169b4f738169d95fc52eb5?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sutan Muda Site [SMS]</title>
		<link>http://sutanmuda.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>BUDIDAYA TANAMAN JAHE</title>
		<link>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/22/budidaya-tanaman-jahe/</link>
		<comments>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/22/budidaya-tanaman-jahe/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 08:39:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sutanmuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budidaya Tanaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sutanmuda.wordpress.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Jahe merupakan salah satu komoditas ekspor rempah-rempah
Indonesia, disamping itu juga menjadi bahan baku obat tradisional
maupun fitofarmaka, yang memberikan peranan cukup berarti dalam
penyerapan tenaga kerja dan penerimaan devisa negara. Sebagai
komoditas ekspor dikemas berupa jahe segar, asinan (jahe putih besar),
jahe kering (jahe putih besar, kecil dan jahe merah), maupun minyak
atsiri dari jahe putih kecil (jahe emprit) dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sutanmuda.wordpress.com&blog=1236765&post=176&subd=sutanmuda&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Jahe merupakan salah satu komoditas ekspor rempah-rempah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Indonesia, disamping itu juga menjadi bahan baku obat tradisional</span></p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-176"></span><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">maupun fitofarmaka, yang memberikan peranan cukup berarti dalam</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">penyerapan tenaga kerja dan penerimaan devisa negara. Sebagai</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">komoditas ekspor dikemas berupa jahe segar, asinan (jahe putih besar),</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">jahe kering (jahe putih besar, kecil dan jahe merah), maupun minyak</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">atsiri dari jahe putih kecil (jahe emprit) dan jahe merah. Volume</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">permintaannya terus meningkat seiring dengan permintaan produk jahe</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">dunia serta makin berkembangnya industri makanan dan minuman di</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">dalam negeri yang menggunakan bahan baku jahe. Pada tahun 1998,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">ekspor jahe Indonesia mencapai 32.807 ton dengan nilai nominal</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">US $ 9.286.161. Tahun 2003 turun menjadi 7.470 ton dengan nilai</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">US $ 3.930.317 karena mutu yang tidak memenuhi standar. Namun</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">permintaan jahe mengalami peningkatan setiap tahun. Kondisi ini di</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Indonesia, direspon dengan makin berkembangnya areal penanaman</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">dan munculnya berbagai produk jahe.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Pengembangan jahe skala luas sampai saat ini perlu didukung</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">dengan upaya pembudidayaannya secara optimal dan berkesinambungan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Untuk mencapai tingkat keberhasilan budidaya yang optimal</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">diperlukan bahan tanaman dengan jaminan produksi dan mutu yang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">baik serta stabil dengan cara menerapkan budidaya anjuran. Adanya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">penolakan ekspor jahe Indonesia di negara tujuan terutama Jepang,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">karena tingginya cemaran mikroorganisme, mengakibatkan anjloknya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">pendapatan petani jahe. Hal ini perlu segera diantisipasi dengan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">menerapkan budidaya anjuran terbaik diantaranya dengan penggunaan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">bahan tanaman sehat yang berasal dari varietas unggul. Selain itu,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">karena kualitas simplisia bahan baku industri hilir ditentukan oleh</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">proses budidaya dan pascapanennya, maka pembakuan standar</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">prosedur operasional (SPO) budidaya jahe dibuat guna mendukung</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">GAP (</span><em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-ItalicMT;">Good Agricultural Practices</span></em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">).</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-BoldMT;">PERSYARATAN TUMBUH</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Untuk budidaya jahe diperlukan lahan di daerah yang sesuai</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">untuk pertumbuhannya. Untuk pertumbuhan jahe yang optimal</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">diperlukan persyaratan iklim dan lahan sebagai berikut : iklim tipe A,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">B dan C (Schmidt &amp; ferguson), ketinggian tempat 300 &#8211; 900 m dpl.,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">temperatur rata-rata tahunan 25 &#8211; 30º C, jumlah bulan basah (&gt; 100</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">mm/bl) 7 &#8211; 9 bulan per tahun, curah hujan per tahun 2 500 – 4 000 mm,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">intensitas cahaya matahari 70 &#8211; 100% atau agak ternaungi sampai</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">terbuka, drainase tanah baik, tekstur tanah lempung sampai lempung</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">liat berpasir, pH tanah 6,8 – 7,4. Pada lahan dengan pH rendah dapat</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">diberikan kapur pertanian (kaptan) 1 &#8211; 3 ton/ha atau dolomit 0,5 &#8211; 2</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">ton/ha untuk meningkatkan pH tanah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Pada lahan dengan kemiringan &gt; 3% dianjurkan untuk</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">dilakukan pembuatan teras, teras bangku sangat dianjurkan bila</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">kemiringan lereng cukup curam. Hal ini untuk menghindari terjadinya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">pencucian lahan yang mengakibatkan tanah menjadi tidak subur, dan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">benih jahe hanyut terbawa arus. Persyaratan lahan lainnya yang juga</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">penting bagi penamaman jahe adalah lahan bukan merupakan daerah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">endemik penyakit tular tanah (</span><em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-ItalicMT;">soil borne diseases</span></em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">) terutama bakteri</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">layu dan nematoda. Untuk menjamin kesehatan lahan, sebaiknya lahan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">yang digunakan bukan bekas jahe, atau tidak ada serangan penyakit</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">bakteri layu dilahan tersebut dan hanya dua kali berturut-turut ditanami</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">jahe. Tahun berikutnya dianjurkan pindah tempat untuk menghindari</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">kegagalan panen karena kendala penyakit dan adanya gejala allelopati.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-BoldMT;">BAHAN TANAMAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Jahe (</span><em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-ItalicMT;">Zingiber officinale </span></em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Rosc.; Ginger) adalah tanaman herba</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">tahunan yang tergolong famili Zingiberaceae, dengan daun berpasangpasangan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">dua-dua berbentuk pedang, rimpang seperti tanduk,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">beraroma. Selama ini di Indonesia, berdasarkan pada bentuk, warna</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">dan aroma rimpang serta komposisi kimianya dikenal 3 tipe jahe, yaitu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">jahe putih besar, jahe emprit dan jahe merah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Jahe putih besar (</span><em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-ItalicMT;">Z. officinale </span></em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">var. officinarum) mempunyai</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">rimpang besar berbuku, berwarna putih kekuningan dengan diameter</span><span style="font-size:10pt;font-family:TimesNewRomanPS-BoldMT;"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">8,47 – 8,50 cm, aroma kurang tajam, tinggi dan panjang rimpang 6,20</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">– 11,30 dan 15,83 – 32,75 cm, warna daun hijau muda, batang hijau</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">muda dengan kadar minyak atsiri didalam rimpang 0,82 – 2,8%.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Jahe putih kecil (</span><em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-ItalicMT;">Z. officinale </span></em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">var. amarum) mempunyai</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">rimpang kecil berlapis-lapis, aroma tajam, berwarna putih kekuningan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">dengan diameter 3,27 – 4,05 cm, tinggi dan panjang rimpang 6,38 –</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">11,10 dan 6,13 – 31,70 cm, warna daun hijau muda, batang hijau muda</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">dengan kadar minyak atsiri 1,50 – 3,50%.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Jahe merah (</span><em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-ItalicMT;">Z. officanale </span></em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">var. rubrum) mempunyai rimpang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">kecil berlapis, aroma sangat tajam, berwarna jingga muda sampai</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">merah dengan diameter 4,20 – 4,26 cm, tinggi dan panjang rimpang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">5,26 – 10,40 dan 12,33 – 12,60 cm, warna daun hijau muda, batang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">hijau kemerahan dengan kadar minyak atsiri 2,58 – 3,90%.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Balittro telah melepas varietas unggul jahe putih besar</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">(Cimanggu-1) dengan potensi produksi 17 &#8211; 37 ton/ha. Sedangkan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">calon varietas unggul jahe putih kecil dan jahe merah rata-rata potensi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">produksinya masing-masing untuk jahe putih kecil adalah 16 ton/ha</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">dengan kadar minyak atsiri 1,7 – 3,8%, kadar oleoresin 2,39 – 8,87%.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Sedangkan jahe merah potensi produksinya 22 ton/ha, kadar minyak</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">atsiri 3,2 – 3,6%, kadar oleoresin 5,86 – 6,36%.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-BoldMT;">PEMBENIHAN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Benih yang digunakan harus jelas asal usulnya, sehat dan tidak</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">tercampur dengan varietas lain. Benih yang sehat harus berasal dari</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">pertanaman yang sehat, tidak terserang penyakit. Beberapa penyakit</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">penting pada tanaman jahe yang umum dijumpai, terutama jahe putih</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">besar, adalah layu bakteri (</span><em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-ItalicMT;">Ralstonia solanacearum</span></em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">), layu fusarium</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">(</span><em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-ItalicMT;">Fusarium oxysporum</span></em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">), layu rizoktonia (</span><em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-ItalicMT;">Rhizoctonia solani</span></em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">), nematoda</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">(</span><em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-ItalicMT;">Rhodopolus similis</span></em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">) dan lalat rimpang (</span><em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-ItalicMT;">Mimergralla coeruleifrons,</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-ItalicMT;">Eumerus figurans</span></em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">) serta kutu perisai (</span><em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-ItalicMT;">Aspidiella hartii</span></em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">). Rimpang yang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">telah terinfeksi penyakit tidak dapat digunakan sebagai benih karena</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">akan menjadi sumber penularan penyakit di lapangan. Pemilihan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">benih harus dilakukan sejak pertanaman masih di lapangan. Apabila</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">terdapat tanaman yang terserang penyakit atau tercampur dengan jenis</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">lain, maka tanaman yang terserang penyakit dan tanaman jenis lain</span><span style="font-size:10pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">harus dicabut dan dijauhkan dari areal pertanaman. Pemilihan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">(penyortiran) selanjutnya dilakukan setelah panen, yaitu di gudang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">penyimpanan. Pemeriksaan dilakukan untuk membuang benih yang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">terinfeksi hama dan penyakit atau membuang benih dari jenis lain.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Rimpang yang akan digunakan untuk benih harus sudah tua</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">minimal berumur 10 bulan. Ciri-ciri rimpang tua antara lain</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">kandungan serat tinggi dan kasar, kulit licin dan keras tidak mudah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">mengelupas, warna kulit mengkilat menampakkan tanda bernas.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Rimpang yang terpilih untuk dijadikan benih, sebaiknya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">mempunyai 2 &#8211; 3 bakal mata tunas yang baik dengan bobot sekitar 25</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- 60 g untuk jahe putih besar, 20 &#8211; 40 g untuk jahe putih kecil dan jahe</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">merah. Kebutuhan benih per ha untuk jahe merah dan jahe emprit 1 –</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">1,5 ton, sedangkan jahe putih besar yang dipanen tua membutuhkan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">benih 2 &#8211; 3 ton/ha dan 5 ton/ha untuk jahe putih besar yang dipanen</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">muda. Bagian rimpang yang terbaik dijadikan benih adalah rimpang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">pada ruas kedua dan ketiga.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Sebelum ditanam rimpang benih ditunaskan terlebih dahulu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">dengan cara menyemaikan yaitu, menghamparkan rimpang di atas</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">jerami/alang-alang tipis, di tempat yang teduh atau di dalam gudang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">penyimpanan dan tidak ditumpuk. Untuk itu biasa digunakan wadah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">atau rak-rak terbuat dari bambu atau kayu sebagai alas. Selama</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">penyemaian dilakukan penyiraman setiap hari sesuai kebutuhan, untuk</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">menjaga kelembaban rimpang. Benih rimpang bertunas dengan tinggi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">tunas yang seragam 1 &#8211; 2 cm, siap ditanam di lapangan dan dapat</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">beradaptasi langsung, juga tidak mudah rusak. Rimpang yang sudah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">bertunas tersebut kemudian diseleksi dan dipotong menurut ukuran.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Untuk mencegah infeksi bakteri, dilakukan perendaman didalam</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">larutan antibiotik dengan dosis anjuran. Kemudian dikering anginkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<h3>BUDIDAYA</h3>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Untuk mencapai hasil yang optimal didalam budidaya jahe</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">putih besar, jahe putih kecil maupun jahe merah, selain menggunakan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">varietas unggul yang jelas asal usulnya perlu diperhatikan juga cara</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">budidayanya.</span><span style="font-size:10pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;"></span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-BoldMT;">Persiapan lahan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Sebelum tanam dilakukan pengolahan tanah. Tanah diolah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">sedemikian rupa agar gembur dan dibersihkan dari gulma. Pengolahan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">tanah dilakukan dengan cara menggarpu dan mencangkul tanah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">sedalam 30 cm, dibersihkan dari ranting-ranting dan sisa-sisa tanaman</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">yang sukar lapuk. Untuk tanah dengan lapisan olah tipis, pengolahan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">tanahnya harus hati-hati disesuaikan dengan lapisan tanah tersebut dan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">jangan dicangkul atau digarpu terlalu dalam sehingga tercampur antara</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">lapisan olah dengan lapisan tanah bawah, hal ini dapat mengakibatkan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">tanaman kurang subur tumbuhnya. Setelah tanah diolah dan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">digemburkan, dibuat bedengan searah lereng (untuk tanah yang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">miring), sistim guludan atau dengan sistim pris (parit). Pada bedengan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">atau guludan kemudian dibuat lubang tanam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-BoldMT;">Jarak tanam</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Benih jahe ditanam sedalam 5 &#8211; 7 cm dengan tunas menghadap</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">ke atas, jangan terbalik, karena dapat menghambat pertumbuhan. Jarak</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">tanam yang digunakan untuk penanaman jahe putih besar yang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">dipanen tua adalah 80 cm x 40 cm atau 60 cm x 40 cm, jahe putih kecil</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">dan jahe merah 60 cm x 40 cm.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-BoldMT;">Pemupukan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Pupuk kandang domba atau sapi yang sudah masak sebanyak</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">20 ton/ha, diberikan 2 &#8211; 4 minggu sebelum tanam. Sedangkan dosis</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">pupuk buatan SP-36 300 &#8211; 400 kg/ha dan KCl 300 &#8211; 400 kg/ha,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">diberikan pada saat tanam. Pupuk urea diberikan 3 kali pada umur 1, 2</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">dan 3 bulan setelah tanam sebanyak 400 &#8211; 600 kg/ha, masing-masing</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">1/3 dosis setiap pemberian. Pada umur 4 bulan setelah tanam dapat</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">pula diberikan pupuk kandang ke dua sebanyak 20 ton/ha.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-BoldMT;">Pemeliharaan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Pemeliharaan dilakukan agar tanaman dapat tumbuh dan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">berproduksi dengan baik.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-BoldItalicMT;">a. Penyiangan gulma</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Sampai tanaman berumur 6 &#8211; 7 bulan banyak tumbuh gulma, sehingga</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">penyiangan perlu dilakukan secara intensif secara bersih. Penyiangan setelah</span><span style="font-size:10pt;font-family:TimesNewRomanPS-BoldMT;"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">umur 4 bulan perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak merusak perakaran</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">yang dapat menyebabkan masuknya benih penyakit. Untuk mengurangi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">intensitas penyiangan bisa digunakan mulsa tebal dari jerami atau sekam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-BoldItalicMT;">b. Penyulaman</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Menyulam tanaman yang tidak tumbuh dilakukan pada umur 1</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">– 1,5 bulan setelah tanam dengan memakai benih cadangan yang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">sudah diseleksi dan disemaikan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-BoldItalicMT;">c. Pembumbunan</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Pembumbunan mulai dilakukan pada saat telah terbentuk</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">rumpun dengan 4 &#8211; 5 anakan, agar rimpang selalu tertutup tanah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Selain itu, dengan dilakukan pembumbunan, drainase akan selalu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">terpelihara.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-BoldItalicMT;">d. Pengendalian organisme pengganggu tanaman</span></em></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Pengendalian hama penyakit dilakukan sesuai dengan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">keperluan. Penyakit utama pada jahe adalah busuk rimpang yang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">disebabkan oleh serangan bakteri layu (</span><em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-ItalicMT;">Ralstonia solanacearum</span></em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Sampai saat ini belum ada metode pengendalian yang memadai,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">kecuali dengan menerapkan tindakan-tindakan untuk mencegah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">masuknya benih penyakit, seperti penggunaan lahan sehat,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">penggunaan benih sehat, perlakuan benih sehat (antibiotik),</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">menghindari perlukaan (penggunaan abu sekam), pergiliran tanaman,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">pembersihan sisa tanaman dan gulma, pembuatan saluran irigasi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">supaya tidak ada air menggenang dan aliran air tidak melalui petak</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">sehat (sanitasi), inspeksi kebun secara rutin. Tanaman yang terserang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">layu bakteri segera dicabut dan dibakar untuk menghindari meluasnya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">serangan OPT. Hama yang cukup signifikan adalah lalat rimpang</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-ItalicMT;">Mimergralla coeruleifrons </span></em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">(Diptera, Micropezidae) dan </span><em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-ItalicMT;">Eumerus</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-ItalicMT;">figurans </span></em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">(Diptera, Syrpidae), kutu perisai (</span><em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-ItalicMT;">Aspidiella hartii</span></em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">) yang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">menyerang rimpang mulai dari pertanaman dan menyebabkan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">penampilan rimpang kurang baik serta bercak daun yang disebabkan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">oleh cendawan (</span><em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-ItalicMT;">Phyllosticta </span></em><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">sp.). Serangan penyakit ini apabila terjadi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">pada tanaman muda (sebelum 6 bulan) akan menyebabkan penurunan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">produksi yang cukup signifikan. Tindakan mencegah perluasan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">penyakit ini dengan menyemprotkan fungisida segera setelah terlihat</span><span style="font-size:10pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">ada serangan (diulang setiap minggu sekali), sanitasi tanaman sakit,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">inspeksi secara rutin.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-BoldMT;">POLA TANAM</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Untuk meningkatkan produktivitas lahan, jahe dapat</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">ditumpangsarikan dengan tanaman pangan seperti kacang-kacangan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">dan tanaman sayuran, sesuai dengan kondisi lahan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-BoldMT;">PANEN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Panen untuk konsumsi dimulai pada umur 6 sampai 10 bulan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Tetapi, rimpang untuk benih dipanen pada umur 10 &#8211; 12 bulan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Cara panen dilakukan dengan membongkar seluruh rimpangnya</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">menggunakan garpu, cangkul, kemudian tanah yang menempel</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">dibersihkan. Dengan menggunakan varietas unggul jahe putih besar</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">(Cimanggu-1) dihasilkan rata-rata 27 ton rimpang segar, calon varietas</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">unggul jahe putih kecil (JPK 3; JPK 6) dengan cara budidaya yang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">direkomendasikan, dihasilkan rata-rata 16 ton/ha rimpang segar</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">dengan kadar minyak atsiri 1,7 – 3,8%, kadar oleoresin 2,39 – 8,87%.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Sedangkan jahe merah 22 ton/ha dengan kadar minyak atsiri</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">3,2 – 3,6%, kadar oleoresin 5,86 – 6,36%. Mutu rimpang dari varietas</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">unggul Cimanggu-1 dan calon varietas unggul jahe putih kecil dan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">jahe merah, memenuhi standar Materia Medika Indonesia (MMI).</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Berdasarkan standar perdagangan, mutu rimpang jahe segar</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">dikatagorikan sebagai berikut:</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Mutu I : bobot 250 g/rimpang, kulitnya tidak terkelupas, tidak</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">mengandung benda asing dan kapang;</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Mutu II : bobot 150 &#8211; 249 g/rimpang, kulitnya tidak terkelupas,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">tidak mengandung benda asing dan kapang;</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Mutu III : bobot sesuai hasil analisis, kulit yang terkelupas</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">maksimum 10%, benda asing maksimum 3%, kapang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">maksimum 10%</span><span style="font-size:10pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;"></span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-BoldMT;">PASCA PANEN</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Tahapan pengolahan jahe meliputi penyortiran, pencucian,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">pengirisan, pengeringan, pengemasan dan penyimpanan. Setelah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">panen, rimpang harus secepatnya dibersihkan untuk menghindari</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">kotoran yang berlebihan serta mikroorganisme yang tidak diinginkan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Rimpang dibersihkan dengan disemprot air yang bertekanan tinggi,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">atau dicuci dengan tangan. Setelah pencucian, rimpang dianginanginkan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">untuk mengeringkan air pencucian. Untuk penjualan segar,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">jahe dapat langsung dikemas. Tetapi bila diinginkan dalam bentuk</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">kering atau simplisia, maka perlu dilakukan pengirisan rimpang setebal</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">1 – 4 mm. Untuk mendapatkan simplisia dengan tekstur menarik,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">sebelum diiris rimpang direbus beberapa menit sampai terjadi proses</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">gelatinisasi Rimpang yang sudah diiris, selanjutnya dikeringkan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">dengan energi surya atau dengan pengering buatan/oven pada suhu 36</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">– 46</span><span style="font-size:11.5pt;font-family:SymbolMT;">° </span><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">C. Bila kadar air telah mencapai sekitar 8 &#8211; 10%, yaitu bila</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">rimpang bisa dipatahkan, pengeringan telah dianggap cukup. Selain</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">itu, dikenal jahe kering gelondong (jahe putih kecil dan jahe merah)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">yang diproses dengan cara rimpang jahe utuh ditusuk-tusuk agar air</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">keluar sebagian, kemudian dijemur dengan energi matahari atau</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">dioven sampai kering atau kadar air mencapai 8 &#8211; 10%. Rimpang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">kering dapat dikemas dalam peti, karung atau plastik yang kedap</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">udara, dan dapat disimpan dengan aman, apabila kadar airnya rendah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Ruang penyimpan harus diperhatikan sanitasinya, berventilasi baik,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">dengan suhu ruangan yang rendah dan kering untuk mencegah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">pencemaran oleh mikroba dan hama gudang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-BoldMT;">PENGANEKARAGAMAN PRODUK</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Selain simplisia, dari rimpang jahe dapat diperoleh minyak</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">atsiri, oleoresin, bubuk, jahe asinan, jahe dalam sirup, manisan jahe,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">jahe kristal dan anggur jahe. Asinan jahe merupakan bahan ekspor</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">yang potensial, dibuat dari jahe putih besar yang dipanen muda (3</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">bulan), dengan kadar serat rendah. Sedangkan permen jahe, manisan,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">sirup, instant, serbat dan sekoteng berasal dari jahe putih kecil yang</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">dipanen tua. Selain untuk bahan baku obat tradisional (jamu), jahe</span><span style="font-size:10pt;font-family:TimesNewRomanPS-BoldMT;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">10</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">sudah mulai digunakan untuk obat fitofarmaka karena kandungan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">gingerolnya. Bahan aktif ini diisolasi dari ekstrak jahe yang bermanfaat</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">untuk mengatasi rasa nyeri pada tulang, otot dan sendi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-BoldMT;">USAHATANI</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Untuk memperoleh hasil yang optimum dengan usahatani yang</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">menguntungkan, faktor-faktor produksi didalam budidaya perlu</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">diperhitungkan. Berikut adalah analisis usahatani jahe dengan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">menggunakan calon varietas unggul dan budidaya anjuran Balittro.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-BoldMT;">BIAYA PRODUKSI BUDIDAYA JAHE PER HEKTAR</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-BoldMT;">a. Jahe putih besar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">A. Penangkaran</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">1. Benih 2000 kg 4500 <span> </span>Rp.<span> </span>9 000 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">2. Pupuk</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Pupuk kandang 40 ton 80 000 <span> </span><span> </span>3 200 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Urea 600 kg 1 200 <span> </span><span> </span>720 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- SP36 300 kg 1750 <span> </span><span> </span>525 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- KCl 400 kg 2000 <span> </span><span> </span>800 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">3. PHT 1 pkt 450 000 <span> </span><span> </span>450 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">4. Gaji Upah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Pembukaan lahan 50 HOK 15 000 <span> </span><span> </span>750 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Pengolahan tanah 100 HOK 15 000 <span> </span><span> </span>1 500 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Pembuatan bedengan 60 HOK 15 000 <span> </span><span> </span>900 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Penanaman 60 HOK 15 000 <span> </span><span> </span>900 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Pemeliharaan 300 HOK 15 000 <span> </span><span> </span>4 500 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Sortasi dan seleksi 100 HOK 15 000<span> </span><span> </span>1 500 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Panen dan Pasca panen 100 HOK 15 000 <span> </span><span> </span>1 500 000</span></p>
<h2>Jumlah IA <span> </span><span> </span><span> </span><span> </span>26 245 000<span></span></h2>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-BoldMT;">Lanjutan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Biaya (Rp) No. Komponen Biaya Vol. Fisik Satuan Jumlah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">B. Penanganan benih</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">1. Sortasi benih di gudang 75 HOK 15 000 <span> </span>Rp.<span> </span>1 125 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">C. Sertifikasi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">1. Kebun 1 ha 15 000 <span> </span><span> </span><span> </span>5 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">2. Benih <span> </span><span> </span>100 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Jumlah IC <span> </span><span> </span>115 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">D. Packing</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">1. Upah pengepakkan 50 HOK 15 000 <span> </span><span> </span>750 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">2. Kotak kayu 4 000 750 <span> </span><span> </span>3 000 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Jumlah ID 3 750 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Jumlah biaya IA s.d ID <span> </span>31 235 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Bunga bank 10 bulan (10.8 % (13 %/th)<span> </span><span> </span>3 373 380</span></p>
<h2>TOTAL BIAYA I <span> </span>34 608 380</h2>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">II Keuntungan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">A. Hasil penjualan benih 20 000<span> </span>@ 4.500,-<span> </span>90.000.000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<h1>TOTAL KEUNTUNGAN (IIA-I) <span> </span>55.391.620</h1>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Ket : Hasil penjualan benih adalah 80 % dari hasil panen, 20 % sebagai</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">penyusutan di gudang</span><span style="font-size:10pt;font-family:TimesNewRomanPS-BoldMT;"></span></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-BoldMT;">b. Jahe putih kecil</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Biaya (Rp) No. Komponen Biaya Vol. Fisik Satuan Jumlah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">I. Penyediaan Benih</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">A. Penangkaran</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">1. Benih 1000 kg 4500 <span> </span>Rp.<span> </span>4 500 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">2. Pupuk</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Pupuk kandang 40 ton 80 000 <span> </span><span> </span>3 200 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Urea 600 kg 1 200 <span> </span><span> </span>720 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- SP36 300 kg 1750 <span> </span><span> </span>525 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- KCl 400 kg 2000 <span> </span><span> </span>800 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">3. PHT 1 pkt 450 000 <span> </span><span> </span>450 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">4. Gaji Upah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Pembukaan lahan 50 HOK 15 000 <span> </span><span> </span>750 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Pengolahan tanah 100 HOK 15 000 <span> </span><span> </span>1 500 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Pembuatan bedengan 60 HOK 15 000<span> </span><span> </span>900 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Penanaman 60 HOK 15 000 <span> </span><span> </span>900 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Pemeliharaan 300 HOK 15 000 <span> </span><span> </span>4 500 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Sortasi dan seleksi 100 HOK 15 000<span> </span><span> </span><span> </span>1 500 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Panen dan Pascapanen 100 HOK 15 000<span> </span><span> </span><span> </span>1 500 000</span></p>
<p class="MsoNormal">Jumlah                                                                 21.745.000</p>
<p class="MsoNormal"><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">B. Penanganan benih</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">1. Sortasi benih di gudang 75 HOK 15 000 <span> </span><span> </span>1 125 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Jumlah IB <span> </span><span> </span>1 125 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">C. Sertifikasi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">1. Kebun 1 ha 15 000 <span> </span><span> </span>15 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">2. Benih 100 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Jumlah IC 115 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">D. Packing</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">1. Upah pengepakkan 50 HOK 15 000 <span> </span><span> </span>750 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">2. Kotak kayu 2500 750 <span> </span><span> </span>1 800 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Jumlah ID<span> </span><span> </span><span> </span>2 550 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Jumlah biaya IA s.d ID <span> </span><span> </span>25 535 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Bunga bank 10 bulan<span> </span><span> </span>2.757.780</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">10,8 % (13 %/th)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">TOTAL BIAYA I <span> </span><span> </span>28 292 780</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">II Keuntungan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">A. Hasil penjualan benih (80%</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">dari hasil panen)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">10 000 –4 500 <span> </span><span> </span>45 000 000</span></p>
<p class="MsoNormal">total Keuntungn                                                   16.707.220,-</p>
<h1></h1>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Ket : Hasil penjualan benih merupakan 80% dari hasil panen</span><span style="font-size:10pt;font-family:TimesNewRomanPS-BoldMT;"></span></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:11.5pt;font-family:TimesNewRomanPS-BoldMT;">c. Jahe merah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Biaya (Rp) No. Komponen Biaya Vol. Fisik Satuan Jumlah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">I. Penyediaan Benih</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">A. Penangkaran</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">1. Benih 1000 kg<span> </span>@ Rp. 4500 <span> </span>Rp. 4 500 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">2. Pupuk</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Pupuk kandang 40 ton<span> </span>@ Rp. 80 000 <span> </span>Rp. 3 200 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Urea 600 kg @ Rp. 1 200 <span> </span>Rp.<span> </span>720 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- SP36 300 kg @ Rp. 1750 <span> </span>Rp.<span> </span>525 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- KCl 400 kg @ Rp. 2000 <span> </span>Rp.<span> </span>800 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">3. PHT 1 pkt @ Rp. 450 000 <span> </span>Rp.<span> </span>450 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">4. Gaji Upah</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Pembukaan lahan 50 HOK @ Rp. 15 000 <span> </span>Rp.<span> </span>750 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Pengolahan tanah 100 HOK 15 000 <span> </span>Rp.1 500 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Pembuatan bedengan 60 HOK 15 000 <span> </span>Rp.<span> </span>900 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Penanaman 60 HOK 15 000 <span> </span>Rp.<span> </span>900 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Pemeliharaan 300 HOK 15 000 <span> </span>Rp.4 500 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Sortasi dan seleksi 100 HOK 15 000 <span> </span>Rp.1 500 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Panen dan Pascapanen 100 HOK 15 000 <span> </span>Rp.1 500 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Jumlah IA <span> </span></span><strong><span style="font-size:10pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Rp.21 745 000</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">B. Penanganan benih</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">1. Sortasi benih di gudang 75 HOK 15 000 <span> </span>Rp.1 125 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Jumlah IB <span> </span>Rp.1 125 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">C. Sertifikasi</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">1. Kebun 1 ha 15 000 <span> </span>Rp.<span> </span>15 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">2. Benih <span> </span>Rp.<span> </span>100 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Jumlah IC <span> </span><strong>Rp.<span> </span>115 000</strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">D. Packing</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">1. Upah pengepakkan 50 HOK 15 000 <span> </span><span> </span>Rp.<span> </span>750 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">2. Kotak kayu 2500 750 <span> </span>Rp. 1 800 000</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Jumlah ID <span> </span><strong>Rp.2 550 000</strong></span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Jumlah biaya IA s.d ID <span> </span>Rp. 25 535 000</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">- Bunga bank 10 bulan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">10,8 % (13 %/th)<span> </span>Rp.2 757 780</span></p>
<p class="MsoNormal">total Biaya                                                       Rp. 28.292.780</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">II Keuntungan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">A. Hasil penjualan benih 10 000<span> </span>kg@ Rp.4 500 <span> </span>Rp. 45 000 000</span></p>
<p>Total Keuntungan                                            Rp. 16.707.220</p>
<h1></h1>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9.5pt;font-family:TimesNewRomanPSMT;">Ket : Hasil penjualan benih merupakan 80% dari hasil panen</span><span style="font-size:10pt;font-family:TimesNewRomanPS-BoldMT;"></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sutanmuda.wordpress.com/176/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sutanmuda.wordpress.com/176/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sutanmuda.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sutanmuda.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sutanmuda.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sutanmuda.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sutanmuda.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sutanmuda.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sutanmuda.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sutanmuda.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sutanmuda.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sutanmuda.wordpress.com/176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sutanmuda.wordpress.com&blog=1236765&post=176&subd=sutanmuda&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/22/budidaya-tanaman-jahe/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bbc0e24b4df5ca533a69b35c01641ddd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sutanmuda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TUMPANG SARI JAHE DENGAN TANAMAN KARET MUDA</title>
		<link>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/22/tumpang-sari-jahe-dengan-tanaman-karet-muda/</link>
		<comments>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/22/tumpang-sari-jahe-dengan-tanaman-karet-muda/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 07:58:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sutanmuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budidaya Tanaman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sutanmuda.wordpress.com/?p=173</guid>
		<description><![CDATA[
Persiapan lahan
·  Lahan yang digunakan adalah diantara tanaman karet muda (TBM)
atau tanaman belum menghasilkan berumur 0-24 bulan.
·  Pembersihan lahan (gawangan) diantara
tanaman karet.
·  Tanah diolah agak cukup gembur.
 
Persiapan bibit
·  Benih: jahe gajah atau jahe kecil (emprit) 650 kg/ha.
·  Bibit jahe disemaikan di atas jerami alang-alang, padi atau karung goni selama [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sutanmuda.wordpress.com&blog=1236765&post=173&subd=sutanmuda&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><a href="http://sutanmuda.files.wordpress.com/2008/07/jahe.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-174" src="http://sutanmuda.files.wordpress.com/2008/07/jahe.jpg?w=300&#038;h=232" alt="" width="300" height="232" /></a></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:black;">Persiapan lahan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">Lahan yang digunakan adalah diantara tanaman karet muda (TBM)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;">atau tanaman belum menghasilkan berumur 0-24 bulan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-173"></span><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">Pembersihan lahan (gawangan) diantara</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;">tanaman karet.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">Tanah diolah agak cukup gembur.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:black;">Persiapan bibit</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">Benih: jahe gajah atau jahe kecil (emprit) 650 kg/ha.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">Bibit jahe disemaikan di atas jerami alang-alang, padi atau karung goni selama 2-3 hari.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">Penyiraman diperlukan agar persemaian tetap lembab.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:black;">Penanaman</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">Jarak tanam 100 cm dari barisan pertanaman karet muda.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">1 bibit jahe setiap lubang tanam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">Jarak tanam tanaman jahe 40 x 60 cm.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">Penanaman jahe jalur menghadap timur-barat dan baris utara-selatan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:black;">Pemupukan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">Urea 375 kg/ha. Urea diberikan dua kali, ½ bagian pada umur 2 minggu setelah tanam dan ½ bagian 12 minggu setelah tanam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">SP36 250 kg/ha.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">KCl 150 kg/ha. SP36 dan KCl diberikan seluruhnya pada saat tanam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:black;">Tanaman karet</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">Urea 150 g/pohon/tahun. Urea diberikan dua kali, ½ bagian pada umur 2</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;">minggu setelah tanam dan ½ bagian 12 minggu setelah tanam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">SP36 90 g/pohon/tahun</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">KCl 90 g/pohon/tahun.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">Dolomit 75 g/pohon/tahun.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:black;">Pemeliharaan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">Penyiangan dilakukan pada umur 4,</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;">12 dan 16 minggu setelah tanam.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">Pengendalian hama dan penyakit</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;">dilakukan secara kimiawi.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:black;">Panen</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">Umur 5-6 bulan setelah tanam dengan</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;">produksi 6,2-7,7 t/ha jahe muda</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:blue;">Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BP2TP)</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sutanmuda.wordpress.com/173/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sutanmuda.wordpress.com/173/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sutanmuda.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sutanmuda.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sutanmuda.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sutanmuda.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sutanmuda.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sutanmuda.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sutanmuda.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sutanmuda.wordpress.com/173/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sutanmuda.wordpress.com/173/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sutanmuda.wordpress.com/173/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sutanmuda.wordpress.com&blog=1236765&post=173&subd=sutanmuda&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/22/tumpang-sari-jahe-dengan-tanaman-karet-muda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bbc0e24b4df5ca533a69b35c01641ddd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sutanmuda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sutanmuda.files.wordpress.com/2008/07/jahe.jpg?w=300" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>BUDIDAYA RUMPUT GAJAH UNTUK PAKAN TERNAK</title>
		<link>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/22/budidaya-rumput-gajah-untuk-pakan-ternak/</link>
		<comments>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/22/budidaya-rumput-gajah-untuk-pakan-ternak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 06:40:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sutanmuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budidaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sutanmuda.wordpress.com/?p=167</guid>
		<description><![CDATA[
Jenis tanaman rumput-rumputan yang berperan dalam pengawetan tanah dan air adalah yang dapat berfungsi ganda yaitu berkemampuan untuk membantu mencegah berlangsungnya erosi dan dapat pula bermanfaat bagi hijauan makanan ternak. Rumput gajah merupakan alternatifnya.
Tanaman rumput-rumputan dapat digunakan dalam usaha pengawetan tanah dan atau pencegahan erosi dikarenakan :
a. Tanaman rumout-rumputan dapat tumbuh dengan cepat sehingga dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sutanmuda.wordpress.com&blog=1236765&post=167&subd=sutanmuda&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://sutanmuda.files.wordpress.com/2008/07/rumput-gajah-01.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-171" src="http://sutanmuda.files.wordpress.com/2008/07/rumput-gajah-01.jpg?w=142&#038;h=109" alt="" width="142" height="109" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">Jenis tanaman rumput-rumputan yang berperan dalam pengawetan tanah dan air adalah </span>yang dapat berfungsi ganda yaitu berkemampuan untuk membantu mencegah berlangsungnya erosi dan dapat pula bermanfaat bagi hijauan makanan ternak. Rumput gajah merupakan alternatifnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-167"></span>Tanaman rumput-rumputan dapat digunakan dalam usaha pengawetan tanah dan atau pencegahan erosi dikarenakan :</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">a. Tanaman rumout-rumputan dapat tumbuh dengan cepat sehingga dalam waktu pendek tanah telah dapat tertutupi oleh tanaman tersebut secara rapat dan tebal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">b. Bagian atas dari tanaman (daun-daunan) mampu melindungi permukaan tanah dari percikan air hujan dan memperlambat aliran permukaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">c. Bagian bawah tanaman (perakaran) dapat memperkuat resistensi tanah dan membantu melancarkan infiltrasi air kedalamtanah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">Penanaman rumput gajah dapat dilakukan secara monokultur ataupun interkultur dengan tanaman tahunan sehingga dapat diperoleh manfaat secara maksimal. Pertumbuhannya yang relatif cepat dalam waktu yang pendek serta peranan daun-daun dan perakarannya terhadap erosi, maka pembudidayaan rumput gajah dapat menjadi pilihan yang bijaksana dan menguntungkan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">Rumput Gajah ( </span><span style="font-size:10.5pt;font-family:Tahoma;color:black;">Pennisctum purpureum</span><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">) atau disebut juga rumput napier, merupakan salah satu jenis hijauan pakan ternak yang berkualitas dan disukai ternak. Rumput gajah dapat hidup diberbagai tempat (0 &#8211; 3000 dpl), tahan lindungan, respon terhadap pemupukan, serta enghendaki tingkat kesuburan tanah yang tinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">Rumput gajah tumbuh merumpun dengan perakaran serabut yang kompak, dan terus <span> </span>enghasilkan anakan apabila dipangkas secara teratur.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">Pada lahan tumpang sari, rumput gajah dapat ditanam pada guludan-guludan sebagai pencegah</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">longsor akibat erosi. Morfologi rumput gajah yang rimbun, dapat mencapai tinggi lebih dari 2 meter sehingga dapat berperan sebagai penangkal angin (wind break) terhadap tanaman utama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">Rumput gajah dibudidayakan dengan potongan batang (stek) atau sobekan rumpun (pous) sebagai bibit. Bahan stek berasal dari batang yang sehat dan tua, dengan panjang stek 20 &#8211; 25 cm (2 – 3 ruas atau paling sedikit 2 buku atau mata). Pemotongan pada waktu penanaman ruas mata dapat Untuk bibit yang berasal dari sobekan rumpun/ anakan (pous) sebaiknya berasal dari</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">rumpun yang sehat, banyak mengandung akar dan calon anakan baru. Sebelum penanaman bagian vegetatif dari sobekan rumpun dipangkas terlebih dahulu untuk menghindari penguapan yang tinggi sebelum sistem perakaran dapat aktif menghisap air.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">Cara Penanaman :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">1. Pembersihan lahan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">2. Pengolahan tanah (sebaiknya dilakukan pada akhir musim kemarau sehingga penanaman dapat dilakukan pada awal musim hujan).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">3. Pembuatan lubang-lubang tanaman dengan jarak tanam 60 x 100 cm.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">Diperlukan 17.000 bahan stek untuk kebutuhan lahan seluas 1 hektar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">Pemupukan :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">1. Pupuk P dan K diberikan 2 kali dalam setahun yaitu pada waktu pengolahan tanah dan 6 bulan</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">kemudian, dengan dosis masing-masing 200 kg DS dan 200 kg ZK per hektarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">2. Pupuk N diberikan 200 kg ZA/ha/tahun yang diberikan setiap kali setelah 2 &#8211; 4 kali pemotongan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">3. Dapat juga digunakan pupuk kandang sebanyak 400 kw/ha/tahun yang diberikan pada waktu pengolahan tanah dan setelah pemotongan. Pemungutan Hasil (pemotongan) :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">Pemotongan rumput gajah yang pertama dilakukan setelah tanaman berumur 60 hari,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">selanjutnya dilakukan selang 40 hari pada musim hujan dan selang 60 hari pada musim kemarau.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">Pada pemotongan batang rumput gajah sebaiknya ditinggalkan ± 10 cm dari permukaan tanah. Pemotongan batang tanaman yang terlalu pendek menyebabkan semakin lambatnya pertumbuhan kembali, namun jika batang yang ditinggalkan terlalu panjang maka tunas batang saja yang akan berkembang sedangkan jumlah anakan akan berkurang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">Peremajaan :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">Dilakukan jika tanaman telah berumur 3 – 4 tahun setelah tanaman sudah tidak responsive lagi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">terhadap pengelolaan. Setelah pemotongan terakhir, tanah diantara barisan dicangkul dan dilakukan pemupukan. Buatlah lubang tanam untuk tanaman baru pada perpotongan silang rumput yang lama, untuk menjaga kesinambungan stok hijauan ternak. Setelah tanaman baru tumbuh, sisa tanaman lama dibongkar hingga ke akar-akarnya. Komposisi Gizi Rumput Gajah (bahan kering) :</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">Bagian yang dapat dicerna dari rumput gajah yaitu :</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">Bahan kering %</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">Protein kasar<span> </span>=<span> </span>10.19</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">Serat Kasar<span> </span>=<span> </span>34.15</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">Lemak<span> </span>=<span> </span>1.64</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">Abu<span> </span>=<span> </span>11.73</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">BETN<span> </span>=<span> </span>42.29</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">Bahan kering %</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">Protein kasar<span> </span>=<span> </span>5.92</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">Serat Kasar<span> </span>=<span> </span>22.74</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">Lemak<span> </span>=<span> </span>0.84</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma;color:black;">BETN<span> </span>=<span> </span>25.6</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;">PENANAMAN RUMPUT UNTUK TERNAK</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:14pt;color:white;">Sistem Budidaya Sapi Potong Pada Ekoregional Padang Pengembalaan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:black;">Persiapan lahan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">Lahan dibersihkan dari gulma, kemudian digaru dibiarkan selama satu minggu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:black;">Persiapan bibit rumput</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">Bibit rumput didatangkan dari Sub Balitnak Sungai Putih Kecamatan Galang, Sumatera Utara. Dipilahkan dalam 5 rumpun, kemudian untuk 1 lubang tanaman disiram dalam hal penyiapan akar agar jangan kering.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">Persiapan kebun bibit rumput kemudian tanah yang telah diolah dipagari dengan pagar duri dengan tiang dari batang kuda-kuda.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">Penanaman rumput rumput yang telah dipisahkan, kemudian ditanam dengan jarak tanam 40 x 60 cm/rumpun.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:black;">Pemupukan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">Tanah yang telah diistirahatkan diberikan pupuk urea sebanyak 1100 kg/ha, selang beberapa hari kemudian ditambah dengan pemberian pupuk kandang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:black;">Penyiraman</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">Disiram setiap hari agar akarnya cepat tumbuh.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:black;">Penimbangan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">Seluruh sapi ditimbang, diberikan obat cacing sesuai dengan anjuran dan diseleksi dengan memilih sapi yang baik untuk digemukan dan perkawinan dengan ratio perbandingan 10 ekor betina dengan 1 ekor jantan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:black;">Pemeriksaan feses</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">Feses diperiksa di laboratorium</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;">dengan tujuan agar terhindar dari lido parasit, kemudian sapi tersebut disemprot dengan Asumtol guna pencegahan serangan berupa caplak.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:black;">Pengembalaan sapi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">Seluruh sapi ditempatkan pada padang pengembalaan yang telah ditumbuhi rumput <em>Brachiria humicola</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:black;">Pengamatan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:Symbol;color:black;">· <span> </span></span><span style="color:black;">Setiap 1 bulan sekali sapi tersebut ditimbang dengan tujuan mengetahui pertumbuhan berat badan, sedang sapi yang dipilih untuk tujuan perkawinan dideteksi dengan jalan pengambilan air seni (urin), bila telah menunjukan tanda-tanda kebuntingan dilihat</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="color:black;">dengan penampilan sapi tersebut, urine dicelupkan ke dalam planotest bila menunjukkan tanda-tanda kehamilan maka akan tergambar didalam planotest tersebut.</span></p>
<p>(diambil dari bebagai sumber)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sutanmuda.wordpress.com/167/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sutanmuda.wordpress.com/167/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sutanmuda.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sutanmuda.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sutanmuda.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sutanmuda.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sutanmuda.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sutanmuda.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sutanmuda.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sutanmuda.wordpress.com/167/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sutanmuda.wordpress.com/167/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sutanmuda.wordpress.com/167/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sutanmuda.wordpress.com&blog=1236765&post=167&subd=sutanmuda&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/22/budidaya-rumput-gajah-untuk-pakan-ternak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bbc0e24b4df5ca533a69b35c01641ddd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sutanmuda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sutanmuda.files.wordpress.com/2008/07/rumput-gajah-01.jpg?w=142" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>BUDIDAYA TERNAK SAPI PERAH</title>
		<link>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/22/budidaya-ternak-sapi-perah/</link>
		<comments>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/22/budidaya-ternak-sapi-perah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 05:01:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sutanmuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budidaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sutanmuda.wordpress.com/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[
1. SEJARAH SINGKAT
Sapi adalah hewan ternak terpenting sebagai sumber daging, susu, tenaga kerja dan kebutuhan lainnya. Sapi menghasilkan sekitar 50% (45-55%) kebutuhan daging di dunia, 95% kebutuhan susu dan 85% kebutuhan kulit. Sapi berasal dari famili Bovidae. seperti halnya bison, banteng, kerbau (Bubalus), kerbau Afrika (Syncherus), dan anoa.
Domestikasi sapi mulai dilakukan sekitar 400 tahun SM. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sutanmuda.wordpress.com&blog=1236765&post=165&subd=sutanmuda&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://sutanmuda.files.wordpress.com/2008/07/sapi-perah.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-179" src="http://sutanmuda.files.wordpress.com/2008/07/sapi-perah.jpg?w=196&#038;h=274" alt="" width="196" height="274" /></a></p>
<p>1. SEJARAH SINGKAT</p>
<p>Sapi adalah hewan ternak terpenting sebagai sumber daging, susu, tenaga kerja dan kebutuhan lainnya. Sapi menghasilkan sekitar 50% (45-55%) kebutuhan daging di dunia, 95% kebutuhan susu dan 85% kebutuhan <span id="more-165"></span>kulit. Sapi berasal dari famili Bovidae. seperti halnya bison, banteng, kerbau (Bubalus), kerbau Afrika (Syncherus), dan anoa.</p>
<p>Domestikasi sapi mulai dilakukan sekitar 400 tahun SM. Sapi diperkirakan berasal dari Asia Tengah, kemudian menyebar ke Eropa, Afrika dan seluruh wilayah Asia. Menjelang akhir abad ke-19, sapi Ongole dari India dimasukkan ke pulau Sumba dan sejak saat itu pulau tersebut dijadikan tempat pembiakan sapi Ongole murni.</p>
<p>Pada tahun 1957 telah dilakukan perbaikan mutu genetik sapi Madura dengan jalan menyilangkannya dengan sapi Red Deen. Persilangan lain yaitu antara sapi lokal (peranakan Ongole) dengan sapi perah Frisian Holstein di Grati guna diperoleh sapi perah jenis baru yang sesuai dengan iklim dan kondisi di Indonesia.</p>
<p>2. SENTRA PERIKANAN</p>
<p>Sentra peternakan sapi di dunia ada di negara Eropa (Skotlandia, Inggris, Denmark, Perancis, Switzerland, Belanda), Italia, Amerika, Australia, Afrika dan Asia (India dan Pakistan). Sapi Friesian Holstein misalnya, terkenal dengan produksi susunya yang tinggi (+ 6350 kg/th), dengan persentase lemak susu sekitar 3-7%. Namun demikian sapi-sapi perah tersebut ada yang mampu berproduksi hingga mencapai 25.000 kg susu/tahun, apabila digunakan bibit unggul, diberi pakan yang sesuai dengan kebutuhan ternak, lingkungan yang mendukung dan menerapkan budidaya dengan manajemen yang baik. Saat ini produksi susu di dunia mencapai 385 juta m2/ton/th, khususnya pada zone yang beriklim sedang. Produksi susu sapi di PSPB masih kurang dari 10 liter/hari dan jauh dari standar normalnya 12 liter/hari (rata-ratanya hanya 5-8 liter/hari).</p>
<p>3. JENIS</p>
<p>Secara garis besar, bangsa-bangsa sapi (Bos) yang terdapat di dunia ada dua, yaitu (1) kelompok yang berasal dari sapi Zebu (Bos indicus) atau jenis sapi yang berpunuk, yang berasal dan tersebar di daerah tropis serta (2) kelompok dari Bos primigenius, yang tersebar di daerah sub tropis atau lebih dikenal dengan Bos Taurus.</p>
<p>Jenis sapi perah yang unggul dan paling banyak dipelihara adalah sapi Shorhorn (dari Inggris), Friesian Holstein (dari Belanda), Yersey (dari selat Channel antara Inggris dan Perancis), Brown Swiss (dari Switzerland), Red Danish (dari Denmark) dan Droughtmaster (dari Australia). Hasil survei di PSPB Cibinong menunjukkan bahwa jenis sapi perah yang paling cocok dan menguntungkan untuk dibudidayakan di Indonesia adalah Frisien Holstein.</p>
<p>4. MANFAAT</p>
<p>Peternakan sapi menghasilkan daging sebagai sumber protein, susu, kulit yang dimanfaatkan untuk industri dan pupuk kandang sebagai salah satu sumber organik lahan pertanian.</p>
<p>5. PERSYARATAN LOKASI</p>
<p>Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah daerah yang letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai oleh kendaraan. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang serta dekat dengan lahan pertanian. Pembuatannya dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah atau ladang.</p>
<p>6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA</p>
<p>6.1. Penyiapan Sarana dan Peralatan</p>
<p>Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.</p>
<p>Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila kegiatan penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus lebih luas dan lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih banyak. Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas kandang yang hangat.</p>
<p>Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahan-bahan lainnya. Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5&#215;2 m atau 2,5&#215;2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8&#215;2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5&#215;1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan<br />
kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (&gt; 500 m).</p>
<p>6.2. Pembibitan</p>
<p>Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh bibit sapi perah betina dewasa adalah:</p>
<ol type="a">
<li class="MsoNormal">produksi susu tinggi,</li>
<li class="MsoNormal">umur 3,5-4,5 tahun dan sudah      pernah beranak,</li>
<li class="MsoNormal">berasal dari induk dan      pejantan yang mempunyai keturunan produksi susu tinggi,</li>
<li class="MsoNormal">bentuk tubuhnya seperti baji,</li>
<li class="MsoNormal">matanya bercahaya, punggung      lurus, bentuk kepala baik, jarak kaki depan atau kaki belakang cukup lebar      serta kaki kuat,</li>
<li class="MsoNormal">ambing cukup besar, pertautan      pada tubuh cukup baik, apabila diraba lunak, kulit halus, vena susu      banyak, panjang dan berkelok-kelok, puting susu tidak lebih dari 4,      terletak dalam segi empat yang simetris dan tidak terlalu pendek,</li>
<li class="MsoNormal">tubuh sehat dan bukan sebagai      pembawa penyakit menular, dan</li>
<li class="MsoNormal">tiap tahun beranak.</li>
</ol>
<p>Sementara calon induk yang baik antara lain:</p>
<ol type="a">
<li class="MsoNormal">berasal dari induk yang      menghasilkan air susu tinggi,</li>
<li class="MsoNormal">kepala dan leher sedikit      panjang, pundak tajam, badan cukup panjang, punggung dan pinggul rata,      dada dalam dan pinggul lebar,</li>
<li class="MsoNormal">jarak antara kedua kaki belakang      dan kedua kaki depan cukup lebar,</li>
<li class="MsoNormal">pertumbuhan ambing dan puting      baik,</li>
<li class="MsoNormal">jumlah puting tidak lebih      dari 4 dan letaknya simetris, serta</li>
<li class="MsoNormal">sehat dan tidak cacat.</li>
</ol>
<p>Pejantan yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut:</p>
<ol type="a">
<li class="MsoNormal">umur sekitar 4-5 tahun,</li>
<li class="MsoNormal">memiliki kesuburan tinggi,</li>
<li class="MsoNormal">daya menurunkan sifat      produksi yang tinggi kepada anak-anaknya,</li>
<li class="MsoNormal">berasal dari induk dan      pejantan yang baik,</li>
<li class="MsoNormal">besar badannya sesuai dengan      umur, kuat, dan mempunyai sifat-sifat pejantan yang baik,</li>
<li class="MsoNormal">kepala lebar, leher besar,      pinggang lebar, punggung kuat,</li>
<li class="MsoNormal">muka sedikit panjang, pundak      sedikit tajam dan lebar,</li>
<li class="MsoNormal">paha rata dan cukup terpisah,</li>
<li class="MsoNormal">dada lebar dan jarak antara      tulang rusuknya cukup lebar,</li>
<li class="MsoNormal">badan panjang, dada dalam,      lingkar dada dan lingkar perut besar, serta</li>
<li class="MsoNormal">sehat, bebas dari penyakit      menular dan tidak menurunkan cacat pada keturunannya.</li>
</ol>
<p>Prosedur:</p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal">Pemilihan Bibit dan Calon      Induk<br />
Untuk mengejar produktivitas ternak yang tinggi, diperlukan perbaikan      lingkungan hidup dan peningkatan mutu genetik ternak yang bersangkutan.      Bibit yang baru datang harus dikarantina untuk penularan penyakit.      Kemudian bibit diberi minum air yang dicampur garam dapur, ditempatkan      dalam kandang yang bersih dan ditimbang serta dicatat penampilannya.</li>
<li class="MsoNormal">Perawatan Bibit dan Calon      Induk<br />
Seluruh sapi perah dara yang belum menunjukkan tanda-tanda birahi atau      belum bunting setelah suatu periode tertentu, harus disisihkan. Jika sapi      yang disisihkan tersebut telah menghasilkan susu, sapi diseleksi kembali      berdasarkan produksi susunya, kecenderungan terkena radang ambing dan      temperamennya.</li>
<li class="MsoNormal">Sistim Pemuliabiakan<br />
Seringkali sapi perah dara dikawinkan dengan pejantan pedaging untuk      mengurangi risiko kesulitan lahir dan baru setelah menghasilkan anak satu      dikawinkan dengan pejantan sapi perah pilihan. Bibit harus diberi kesempatan      untuk bergerak aktif paling tidak 2 jam setiap hari.</li>
</ol>
<p>6.3. Pemeliharaan</p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal">Sanitasi dan Tindakan      Preventif<br />
Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak      mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya      sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas.      Sapi perah yang dipelihara dalam naungan (ruangan) memiliki konsepsi      produksi yang lebih tinggi (19%) dan produksi susunya 11% lebih banyak      daripada tanpa naungan. Bibit yang sakit segera diobati karena dan bibit      yang menjelang beranak dikering kandangkan selama 1-2 bulan.</li>
<li class="MsoNormal">Perawatan Ternak<br />
Ternak dimandikan 2 hari sekali. Seluruh sapi induk dimandikan setiap hari      setelah kandang dibersihkan dan sebelum pemerahan susu. Kandang harus      dibersihkan setiap hari, kotoran kandang ditempatkan pada penampungan      khusus sehingga dapat diolah menjadi pupuk. Setelah kandang dibersihkan,      sebaiknya lantainya diberi tilam sebagai alas lantai yang umumnya terbuat      dari jerami atau sisa-sisa pakan hijauan (seminggu sekali tilam tersebut      harus dibongkar). Penimbangan dilakukan sejak sapi pedet hingga usia      dewasa. Sapi pedet ditimbang seminggu sekali sementara sapi dewasa      ditimbang setiap bulan atau 3 bulan sekali. Sapi yang baru disapih      ditimbang sebulan sekali. Sapi dewasa dapat ditimbang dengan melakukan      taksiran pengukuran berdasarkan lingkar dan lebar dada, panjang badan dan      tinggi pundak.</li>
<li class="MsoNormal">Pemberian Pakan<br />
Pemberian pakan pada sapi dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:</p>
<ol type="a">
<li class="MsoNormal">sistem penggembalaan       (pasture fattening)</li>
<li class="MsoNormal">kereman (dry lot       fattening)</li>
<li class="MsoNormal">kombinasi cara pertama       dan kedua.<br />
Pakan yang diberikan berupa hijauan dan konsentrat. Hijauan yang berupa       jerami padi, pucuk daun tebu, lamtoro, alfalfa, rumput gajah, rumput       benggala atau rumput raja. Hijauan diberikan siang hari setelah pemerahan       sebanyak 30-50 kg/ekor/hari. Pakan berupa rumput bagi sapi dewasa<br />
umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot badan (BB) dan pakan tambahan       sebanyak 1-2% dari BB. Sapi yang sedang menyusui (laktasi) memerlukan       makanan tambahan sebesar 25% hijauan dan konsentrat dalam ransumnya.       Hijauan yang berupa rumput segar sebaiknya ditambah dengan jenis       kacang-kacangan (legum).<br />
Sumber karbohidrat berupa dedak halus atau bekatul, ampas tahu, gaplek,       dan bungkil kelapa serta mineral (sebagai penguat) yang berupa garam       dapur, kapur, dll. Pemberian pakan konsentrat sebaiknya diberikan pada       pagi hari dan sore hari sebelum sapi diperah sebanyak 1-2 kg/ekor/hari.       Selain makanan, sapi harus diberi air minum sebanyak 10% dari berat badan       per hari.<br />
Pemeliharaan utama adalah pemberian pakan yang cukup dan berkualitas,       serta menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternak yang dipelihara.       Pemberian pakan secara kereman dikombinasikan dengan penggembalaan Di       awal musim kemarau, setiap hari sapi digembalakan. Di musim hujan sapi       dikandangkan dan pakan diberikan menurut jatah. Penggembalaan bertujuan       pula untuk memberi kesempatan bergerak pada sapi guna memperkuat kakinya.</li>
</ol>
</li>
<li class="MsoNormal">Pemeliharaan Kandang<br />
Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (<span style="text-decoration:underline;">+</span>1-2minggu)      dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi      tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya      berjalan lancar. Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat      pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah      atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan      tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air      minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi      daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi.</li>
</ol>
<p>7. HAMA DAN PENYAKIT</p>
<p>7.1. Penyakit</p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal">Penyakit antraks
<ul type="circle">
<li class="MsoNormal">Penyebab: Bacillus       anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau       pernafasan.</li>
<li class="MsoNormal">Gejala:
<ol type="1">
<li class="MsoNormal">demam tinggi, badan        lemah dan gemetar;</li>
<li class="MsoNormal">gangguan pernafasan;</li>
<li class="MsoNormal">pembengkakan pada        kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul;</li>
<li class="MsoNormal">kadang-kadang darah        berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus        dan vagina;</li>
<li class="MsoNormal">kotoran ternak cair        dan sering bercampur darah;</li>
<li class="MsoNormal">limpa bengkak dan        berwarna kehitaman.</li>
</ol>
</li>
<li class="MsoNormal">Pengendalian:       vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta       mengubur/membakar sapi yang mati.</li>
</ul>
</li>
<li class="MsoNormal">Penyakit mulut dan kuku (PMK)      atau penyakit Apthae epizootica (AE)
<ul type="circle">
<li class="MsoNormal">Penyebab: virus ini       menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu, air liur       dan benda lain yang tercemar kuman AE.</li>
<li class="MsoNormal">Gejala:
<ol type="1">
<li class="MsoNormal">rongga mulut, lidah,        dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat        berisi cairan yang bening;</li>
<li class="MsoNormal">demam atau panas,        suhu badan menurun drastis;</li>
<li class="MsoNormal">nafsu makan menurun        bahkan tidak mau makan sama sekali;</li>
<li class="MsoNormal">air liur keluar        berlebihan.</li>
</ol>
</li>
<li class="MsoNormal">Pengendalian:       vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.</li>
</ul>
</li>
<li class="MsoNormal">Penyakit ngorok/mendekur atau      penyakit Septichaema epizootica (SE)
<ul type="circle">
<li class="MsoNormal">Penyebab: bakteri       Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman yang       tercemar bakteri.</li>
<li class="MsoNormal">Gejala:
<ol type="1">
<li class="MsoNormal">kulit kepala dan        selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan;</li>
<li class="MsoNormal">leher, anus, dan        vulva membengkak;</li>
<li class="MsoNormal">paru-paru meradang,        selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua;</li>
<li class="MsoNormal">demam dan sulit        bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah,        sapi akan mati dalam waktu antara 12-36 jam.</li>
</ol>
</li>
<li class="MsoNormal">Pengendalian: vaksinasi       anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.</li>
</ul>
</li>
<li class="MsoNormal">Penyakit radang kuku atau      kuku busuk (foot rot)
<ul type="circle">
<li class="MsoNormal">Penyakit ini menyerang       sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor.</li>
<li class="MsoNormal">Gejala:
<ol type="1">
<li class="MsoNormal">mula-mula sekitar        celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh;</li>
<li class="MsoNormal">kulit kuku        mengelupas;</li>
<li class="MsoNormal">tumbuh benjolan yang        menimbulkan rasa sakit;</li>
<li class="MsoNormal">sapi pincang dan        akhirnya bisa lumpuh.</li>
</ol>
</li>
</ul>
</li>
</ol>
<p>7.2. Pencegahan Serangan</p>
<p>Upaya pencegahan dan pengobatannya dilakukan dengan memotong kuku dan merendam bagian yang sakit dalam larutan refanol selama 30 menit yang diulangi seminggu sekali serta menempatkan sapi dalam kandang yang bersih dan kering.</p>
<p>8. PANEN</p>
<p>8.1. Hasil Utama</p>
<p>Hasil utama dari budidaya sapi perah adalah susu yang dihasilkan oleh induk betina.</p>
<p>8.2. Hasil Tambahan</p>
<p>Selain susu sapi perah juga memberikan hasil lain yaitu daging dan kulit yang berasal dari sapi yang sudah tidak produktif serta pupuk kandang yang dihasilkan dari kotoran ternak.</p>
<p>9. PASCAPANEN : …</p>
<p>10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA</p>
<p>10.1. Analisis Usaha Budidaya</p>
<p>Usaha ternak sapi perah di Indonesia masih bersifat subsisten oleh peternak kecil dan belum mencapai usaha yang berorientasi ekonomi. Rendahnya tingkat produktivitas ternak tersebut lebih disebabkan oleh kurangnya modal, serta pengetahuan/ketrampilan petani yang mencakup aspek reproduksi, pemberian pakan, pengelolaan hasil pascapanen, penerapan sistem recording, pemerahan, sanitasi dan pencegahan penyakit. Selain itu pengetahuan petani mengenai aspek tata niaga harus ditingkatkan sehingga keuntungan yang diperoleh sebanding dengan pemeliharaannya. Produksi susu sapi di dunia kini sudah melebihi 385 juta m2/ton/th dengan tingkat penjualan sapi dan produknya yang lebih besar daripada pedet, pejantan, dan sapi afkiran. Di Amerika Serikat, tingkat penjualan dan pembelian sapi dan produknya secara tunai mencapai 13% dari seluruh peternakan yang ada di dunia. Sementara tingkat penjualan anak sapi (pedet), pejantan sapi perah, dan sapi afkir hanya berkisar 3%. Produksi susu sejumlah itu masih perlu ditingkatkan seiring dengan peningkatan jumlah penduduk di dunia ini. Untuk mencapai tingkat produksi yang tinggi maka pengelolaan dan pemberian pakan harus benar-benar sesuai dengan kebutuhan ternak, dimana minimum pakan yang dapat dimanfaatkan oleh ternak (terserap) diusahakan sekitar 3,5-4% dari bahan kering</p>
<p>10.2. Gambaran Peluang Agribisnis</p>
<p>Usaha peternakan sapi perah keluarga memberikan keuntungan jika jumlah sapi yang dipelihara minimal sebanyak 6 ekor, walaupun tingkat efisiensinya dapat dicapai dengan minimal pengusahaannya sebanyak 2 ekor dengan rata-rata produksi susu sebanyak 15 lt/hari. Upaya untuk meningkatkan pendapatan petani melalui pembudidayaan sapi perah tersebut dapat juga dilakukan dengan melakukan diversifikasi usaha. Selain itu melakukan upaya kooperatif dan integratif (horizontal dan vertikal) dengan petani lainnya dan instansi-instansi lain yang berkompeten, serta tetap memantapkan pola PIR diatas.</p>
<p>dari berbagai sumber</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sutanmuda.wordpress.com/165/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sutanmuda.wordpress.com/165/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sutanmuda.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sutanmuda.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sutanmuda.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sutanmuda.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sutanmuda.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sutanmuda.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sutanmuda.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sutanmuda.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sutanmuda.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sutanmuda.wordpress.com/165/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sutanmuda.wordpress.com&blog=1236765&post=165&subd=sutanmuda&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/22/budidaya-ternak-sapi-perah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bbc0e24b4df5ca533a69b35c01641ddd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sutanmuda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sutanmuda.files.wordpress.com/2008/07/sapi-perah.jpg?w=196" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>BUDIDAYA TERNAK SAPI POTONG  DENGAN NUTRISI</title>
		<link>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/22/budidaya-ternak-sapi-potong-dengan-nutrisi/</link>
		<comments>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/22/budidaya-ternak-sapi-potong-dengan-nutrisi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 04:51:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sutanmuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budidaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sutanmuda.wordpress.com/?p=160</guid>
		<description><![CDATA[

I. Pendahuluan.
Usaha peternakan sapi potong mayoritas masih dengan pola tradisional dan skala usaha sambilan. Hal ini disebabkan oleh besarnya investasi jika dilakukan secara besar dan modern, dengan skala usaha kecilpun akan mendapatkan keuntungan yang baik jika dilakukan dengan prinsip budidaya modern. PT. NATURAL NUSANTARA dengan prinsip K-3 (Kuantitas, Kualitas dan Kesehatan) membantu budidaya penggemukan sapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sutanmuda.wordpress.com&blog=1236765&post=160&subd=sutanmuda&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-indent:-0.5in;"><a href="http://sutanmuda.files.wordpress.com/2008/07/sapi-potong-1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-162" src="http://sutanmuda.files.wordpress.com/2008/07/sapi-potong-1.jpg?w=119&#038;h=80" alt="" width="119" height="80" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.75in;text-indent:-0.5in;">I.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Pendahuluan.</p>
<p>Usaha peternakan sapi potong mayoritas masih dengan pola tradisional dan skala usaha sambilan. Hal ini disebabkan oleh besarnya investasi jika dilakukan secara besar dan modern, <span id="more-160"></span>dengan skala usaha kecilpun akan mendapatkan keuntungan yang baik jika dilakukan dengan prinsip budidaya modern. PT. NATURAL NUSANTARA dengan prinsip K-3 (Kuantitas, Kualitas dan Kesehatan) membantu budidaya penggemukan sapi potong baik untuk skala usaha besar maupun kecil.</p>
<p>II. Penggemukan<br />
Penggemukan sapi potong adalah pemeliharaan sapi dewasa dalam keadaan kurus untuk ditingkatkan berat badannya melalui pembesaran daging dalam waktu relatif singkat (3-5 bulan).<br />
Beberapa hal yang berkaitan dengan usaha penggemukan sapi potong adalah :</p>
<p>1. Jenis-jenis Sapi Potong.<br />
Beberapa jenis sapi yang digunakan untuk bakalan dalam usaha penggemukan sapi potong di Indonesia adalah :</p>
<p>A. Sapi Bali.<br />
Cirinya berwarna merah dengan warna putih pada kaki dari lutut ke bawah dan pada pantat, punggungnya bergaris warna hitam (garis belut). Keunggulan sapi ini dapat beradaptasi dengan baik pada lingkungan yang baru.</p>
<p>B. Sapi Ongole.<br />
Cirinya berwarna putih dengan warna hitam di beberapa bagian tubuh, bergelambir dan berpunuk, dan daya adaptasinya baik. Jenis ini telah disilangkan dengan sapi Madura, keturunannya disebut Peranakan Ongole (PO) cirinya sama dengan sapi Ongole tetapi kemampuan produksinya lebih rendah.</p>
<p>C. Sapi Brahman.<br />
Cirinya berwarna coklat hingga coklat tua, dengan warna putih pada bagian kepala. Daya pertumbuhannya cepat, sehingga menjadi primadona sapi potong di Indonesia.</p>
<p>D. Sapi Madura.<br />
Mempunyai ciri berpunuk, berwarna kuning hingga merah bata, terkadang terdapat warna putih pada moncong, ekor dan kaki bawah. Jenis sapi ini mempunyai daya pertambahan berat badan rendah.</p>
<p>E. Sapi Limousin.<br />
Mempunyai ciri berwarna hitam bervariasi dengan warna merah bata dan putih, terdapat warna putih pada moncong kepalanya, tubuh berukuran besar dan mempunyai tingkat produksi yang baik</p>
<p>2. Pemilihan Bakalan.<br />
Bakalan merupakan faktor yang penting, karena sangat menentukan hasil akhir usaha penggemukan.<br />
Pemilihan bakalan memerlukan ketelitian, kejelian dan pengalaman. Ciri-ciri bakalan yang baik adalah :</p>
<p>- Berumur di atas 2,5 tahun.<br />
- Jenis kelamin jantan.<br />
- Bentuk tubuh panjang, bulat dan lebar, panjang minimal 170 cm tinggi pundak minimal 135 cm, lingkar dada 133 cm.<br />
- Tubuh kurus, tulang menonjol, tetapi tetap sehat (kurus karena kurang pakan, bukan karena sakit).<br />
- Pandangan mata bersinar cerah dan bulu halus.<br />
- Kotoran normal</p>
<p>III. Tatalaksana Pemeliharaan.<br />
3.1. Perkandangan.<br />
Secara umum, kandang memiliki dua tipe, yaitu individu dan kelompok. Pada kandang individu, setiap sapi menempati tempatnya sendiri berukuran 2,5 X 1,5 m. Tipe ini dapat memacu pertumbuhan lebih pesat, karena tidak terjadi kompetisi dalam mendapatkan pakan dan memiliki ruang gerak terbatas, sehingga energi yang diperoleh dari pakan digunakan untuk hidup pokok dan produksi daging tidak hilang karena banyak bergerak. Pada kandang kelompok, bakalan dalam satu periode penggemukan ditempatkan dalam satu kandang. Satu ekor sapi memerlukan tempat yang lebih luas daripada kandang individu. Kelemahan tipe kandang ini yaitu terjadi kompetisi dalam mendapatkan pakan sehingga sapi yang lebih kuat cenderung cepat tumbuh daripada yang lemah, karena lebih banyak mendapatkan pakan.</p>
<p>3.2. Pakan.<br />
Berdasarkan kondisi fisioloigis dan sistem pencernaannya, sapi digolongkan hewan ruminansia, karena pencernaannya melalui tiga proses, yaitu secara mekanis dalam mulut dengan bantuan air ludah (saliva), secara fermentatif dalam rumen dengan bantuan mikrobia rumen dan secara enzimatis setelah melewati rumen.<br />
Penelitian menunjukkan bahwa penggemukan dengan mengandalkan pakan berupa hijauan saja, kurang memberikan hasil yang optimal dan membutuhkan waktu yang lama. Salah satu cara mempercepat penggemukan adalah dengan pakan kombinasi antara hijauan dan konsentrat. Konsentrat yang digunakan adalah ampas bir, ampas tahu, ampas tebu, bekatul, kulit biji kedelai, kulit nenas dan buatan pabrik pakan. Konsentrat diberikan lebih dahulu untuk memberi pakan mikrobia rumen, sehingga ketika pakan hijauan masuk rumen, mikrobia rumen telah siap dan aktif mencerna hijauan. Kebutuhan pakan (dalam berat kering) tiap ekor adalah 2,5% berat badannya. Hijauan yang digunakan adalah jerami padi, daun tebu, daun jagung, alang-alang dan rumput-rumputan liar sebagai pakan berkualitas rendah dan rumput gajah, setaria kolonjono sebagai pakan berkualitas tinggi.</p>
<p>Penentuan kualitas pakan tersebut berdasarkan tinggi rendahnya kandungan nutrisi (zat pakan) dan kadar serat kasar. Pakan hijauan yang berkualitas rendah mengandung serat kasar tinggi yang sifatnya sukar dicerna karena terdapat lignin yang sukar larut oleh enzim pencernaan.</p>
<p>Oleh karena itu PT. NATURAL NUSANTARA membantu peternak dengan mengeluarkan produk suplemen khusus ternak yaitu VITERNA Plus, POC NASA, dan HORMONIK.</p>
<p>Produk ini menggunakan teknologi asam amino yang diciptakan dengan pendekatan fisiologis tubuh sapi, yaitu dengan meneliti berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak.<br />
VITERNA Plus mengandung berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak, yaitu :</p>
<p>- Mineral-mineral sebagai penyusun tulang, darah<br />
dan berperan dalam sintesis enzim, yaitu N, P, K,<br />
Ca, Mg, Cl dan lain-lain.<br />
- Asam-asam amino, yaitu Arginin, Histidin, Leusin, Isoleusin dan lain-lain sebagai penyusun protein, pembentuk sel dan organ tubuh.<br />
- Vitamin lengkap yang berfungsi untuk berlangsungnya proses fisiologis tubuh yang normal dan meningkatkan ketahanan tubuh sapi dari serangan penyakit.<br />
- Asam &#8211; asam organik essensial, diantaranya asam propionat, asam asetat dan asam butirat.</p>
<p>POC NASA mengandung berbagai mineral penting untuk pertumbuhan ternak, seperti N, P, K, Ca, Mg, Fe dan lain-lain serta dilengkapi protein dan lemak nabati, mampu meningkatkan pertumbuhan sapi, ketahanan tubuh, mengurangi kadar kolesterol daging dan mengurangi bau kotoran.</p>
<p>Sedangkan HORMONIK berfungsi membantu memacu dan meningkatkan bobot ternak sapi.</p>
<p>Cara Praktis Aplikasi Produk<br />
1. Larutkan 1 botol VITERNA Plus (500cc) dan POC NASA (500 cc) dalam 1 wadah khusus. Aduk/kocok hingga merata kemudian tambahkan dalam larutan tersebut 20 cc atau 2 tutup HORMONIK. Kembali aduk hingga merata.</p>
<p>2. Berikan kepada ternak sapi dengan dosis 10 cc/ekor dengan interval 2 kali sehari (pagi dan sore) dengan cara dicampurkan dalam pakan konsentrat atau air minum.</p>
<p>3.3. Pengendalian Penyakit.<br />
Dalam pengendalian penyakit, yang lebih utama dilakukan adalah pencegahan penyakit daripada pengobatan, karena penggunaan obat akan menambah biaya produksi dan tidak terjaminnya keberhasilan pengobatan yang dilakukan. Usaha pencegahan yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan sapi adalah :</p>
<p>a. Pemanfaatan kandang karantina. Sapi bakalan yang baru hendaknya dikarantina pada suatu kandang terpisah, dengan tujuan untuk memonitor adanya gejala penyakit tertentu yang tidak diketahui pada saat proses pembelian. Disamping itu juga untuk adaptasi sapi terhadap lingkungan yang baru. Pada waktu sapi dikarantina, sebaiknya diberi obat cacing karena berdasarkan penelitian sebagian besar sapi di Indonesia (terutama sapi rakyat) mengalami cacingan. Penyakit ini memang tidak mematikan, tetapi akan mengurangi kecepatan pertambahan berat badan ketika digemukkan. Waktu mengkarantina sapi adalah satu minggu untuk sapi yang sehat dan pada sapi yang sakit baru dikeluarkan setelah sapi sehat. Kandang karantina selain untuk sapi baru juga digunakan untuk memisahkan sapi lama yang menderita sakit agar tidak menular kepada sapi lain yang sehat.</p>
<p>b. Menjaga kebersihan sapi bakalan dan kandangnya. Sapi yang digemukkan secara intensif akan menghasilkan kotoran yang banyak karena mendapatkan pakan yang mencukupi, sehingga pembuangan kotoran harus dilakukan setiap saat jika kandang mulai kotor untuk mencegah berkembangnya bakteri dan virus penyebab penyakit.</p>
<p>c. Vaksinasi untuk bakalan baru. Pemberian vaksin cukup dilakukan pada saat sapi berada di kandang karantina. Vaksinasi yang penting dilakukan adalah vaksinasi Anthrax.<br />
Beberapa jenis penyakit yang dapat meyerang sapi potong adalah cacingan, Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), kembung (Bloat) dan lain-lain.</p>
<p>IV. Produksi Daging.<br />
Faktor-faktor yang mempengaruhi produksi daging adalah<br />
1. Pakan.<br />
Pakan yang berkualitas dan dalam jumlah yang optimal akan berpengaruh baik terhadap kualitas daging. Perlakuan pakan dengan NPB akan meningkatkan daya cerna pakan terutama terhadap pakan yang berkualitas rendah sedangkan pemberian VITERNA Plus memberikan berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak sehingga sapi akan tumbuh lebih cepat dan sehat.</p>
<p>2. Faktor Genetik.<br />
Ternak dengan kualitas genetik yang baik akan tumbuh dengan baik/cepat sehingga produksi daging menjadi lebih tinggi.</p>
<p>3. Jenis Kelamin.<br />
Ternak jantan tumbuh lebih cepat daripada ternak betina, sehingga pada umur yang sama, ternak jantan mempunyai tubuh dan daging yang lebih besar.</p>
<p>4. Manajemen.<br />
Pemeliharaan dengan manajemen yang baik membuat sapi tumbuh dengan sehat dan cepat membentuk daging, sehingga masa penggemukan menjadi lebih singkat.</p>
<p>Abror Yudi Prabowo<br />
Service Order STOKIS CENTER NASA G-077<br />
0818 4646 06</p>
<p>&lt;!&#8211;<br />
var prefix = &#8216;ma&#8217; + &#8216;il&#8217; + &#8216;to&#8217;;<br />
var path = &#8216;hr&#8217; + &#8216;ef&#8217; + &#8216;=&#8217;;<br />
var addy49366 = &#8216;ay_prabowo&#8217; + &#8216;@&#8217; + &#8216;yahoo&#8217; + &#8216;.&#8217; + &#8216;com&#8217;;<br />
document.write( &#8216;&lt;a &#8216; + path + &#8216;\&#8221; + prefix + &#8216;:&#8217; + addy49366 + &#8216;\&#8217;&gt;&#8217; );<br />
document.write( addy49366 );<br />
document.write( &#8216;&lt;\/a&gt;&#8217; );<br />
//&#8211;&gt; <a href="mailto:ay_prabowo@yahoo.com"></a></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Budidaya Sapi Potong Dengan Teknologi NASA</strong></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Usaha peternakan sapi potong mayoritas masih dengan pola tradisional dan skala usaha sambilan. Hal ini disebabkan oleh besarnya investasi jika dilakukan secara besar dan modern. PT. NATURAL NUSANTARA dengan prinsip K-3 (Kuantitas, Kualitas dan Kesehatan) membantu budidaya penggemukan sapi potong baik untuk skala usaha besar maupun kecil dengan mengeluarkan suplemen khusus ternak yaitu VITERNA Plus. Produk ini menggunakan teknologi asam amino yang diciptakan dengan pendekatan fisiologis tubuh sapi, yaitu dengan meneliti berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak.</span></p>
<p>VITERNA Plus mengandung berbagai nutrisi yang dibutuhkan ternak, yaitu :<br />
- Mineral-mineral sebagai penyusun tulang, darah dan berperan dalam sintesis enzim, yaitu N, P, K, Ca, Mg, Cl dan lain-lain.<br />
- Asam-asam amino, yaitu Arginin, Histidin, Leusin, Isoleusin dan lain-lain sebagai penyusun protein, pembentuk sel dan organ tubuh.<br />
- Vitamin lengkap yang berfungsi untuk berlangsungnya proses fisiologis tubuh yang normal dan meningkatkan ketahanan tubuh sapi dari serangan penyakit.<br />
- Asam &#8211; asam organik essensial, diantaranya asam propionat, asam asetat dan asam butirat.<br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Diambil dari berbagai sumber.<br />
<!--[endif]--></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sutanmuda.wordpress.com/160/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sutanmuda.wordpress.com/160/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sutanmuda.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sutanmuda.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sutanmuda.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sutanmuda.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sutanmuda.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sutanmuda.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sutanmuda.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sutanmuda.wordpress.com/160/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sutanmuda.wordpress.com/160/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sutanmuda.wordpress.com/160/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sutanmuda.wordpress.com&blog=1236765&post=160&subd=sutanmuda&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/22/budidaya-ternak-sapi-potong-dengan-nutrisi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bbc0e24b4df5ca533a69b35c01641ddd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sutanmuda</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://sutanmuda.files.wordpress.com/2008/07/sapi-potong-1.jpg?w=119" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>BUDIDAYA TERNAK SAPI POTONG</title>
		<link>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/22/budidaya-ternak-sapi-potong/</link>
		<comments>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/22/budidaya-ternak-sapi-potong/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 04:42:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sutanmuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budidaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sutanmuda.wordpress.com/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[1. SEJARAH SINGKAT
 Sapi yang ada sekarang ini berasal dari Homacodontidae yang dijumpai pada babak Palaeoceen. Jenis-jenis primitifnya ditemukan pada babak Plioceen di India. Sapi Bali yang banyak dijadikan komoditi daging/sapi potong pada awalnya dikembangkan di Bali dan kemudian menyebar ke beberapa wilayah seperti: Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi.

2. SENTRA PETERNAKAN
 Sapi Bali, sapi Ongole, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sutanmuda.wordpress.com&blog=1236765&post=158&subd=sutanmuda&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><strong>1.</strong><span> </span><strong>SEJARAH SINGKAT</strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span> </span>Sapi yang ada sekarang ini berasal dari Homacodontidae yang dijumpai pada babak Palaeoceen. Jenis-jenis primitifnya ditemukan pada babak Plioceen di India. Sapi Bali yang banyak dijadikan komoditi daging/sapi potong pada awalnya dikembangkan di Bali dan kemudian menyebar ke beberapa wilayah <span id="more-158"></span>seperti: Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><strong>2.</strong><span> </span><strong>SENTRA PETERNAKAN</strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span> </span>Sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura banyak terdapat di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi. Sapi jenis Aberdeen angus banyak terdapat di Skotlandia.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;text-align:justify;">Sapi Simental banyak terdapat di Swiss. Sapi Brahman berasal dari India dan banyak dikembangkan di Amerika.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><strong>3.</strong><span> </span><strong>J E N I S</strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span> </span>Jenis-jenis sapi potong yang terdapat di Indonesia saat ini adalah sapi asli Indonesia dan sapi yang diimpor. Dari jenis-jenis sapi potong itu, masing-masing mempunyai sifat-sifat yang khas, baik ditinjau dari bentuk luarnya (ukuran tubuh, warna bulu) maupun dari genetiknya (laju pertumbuhan).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;text-align:justify;">Sapi-sapi Indonesia yang dijadikan sumber daging adalah sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura. Selain itu juga sapi<br />
Aceh yang banyak diekspor ke Malaysia (Pinang). Dari populasi sapi potong yang ada, yang penyebarannya dianggap merata masing-masing adalah: sapi Bali, sapi PO, Madura dan Brahman.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;text-align:justify;">Sapi Bali berat badan mencapai 300-400 kg. dan persentase karkasnya 56,9%. Sapi Aberdeen angus (Skotlandia) bulu berwarna hitam, tidak bertanduk, bentuk tubuh rata seperti papan dan dagingnya padat, berat badan umur 1,5 tahun dapat mencapai 650 kg, sehingga lebih cocok untuk dipelihara sebagai sapi potong. Sapi Simental (Swiss) bertanduk kecil, bulu berwarna coklat muda atau kekuning-kuningan. Pada bagian muka, lutut kebawah dan jenis gelambir, ujung ekor berwarna putih.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;text-align:justify;">Sapi Brahman (dari India), banyak dikembangkan di Amerika. Persentase karkasnya 45%. Keistimewaan sapi ini tidak terlalu selektif terhadap pakan yang diberikan, jenis pakan (rumput dan pakan tambahan) apapun akan dimakannya, termasuk pakan yang jelek sekalipun. Sapi potong ini juga lebih kebal terhadap gigitan caplak dan nyamuk serta tahan panas.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><strong>4.</strong><span> </span><strong>MANFAAT</strong></p>
<p class="MsoBodyText"><span> </span>Memelihara sapi potong sangat menguntungkan, karena tidak hanya menghasilkan daging dan susu, tetapi juga menghasilkan pupuk kandang dan<br />
sebagai tenaga kerja. Sapi juga dapat digunakan meranih gerobak, kotoran sapi juga mempunyai nilai ekonomis, karena termasuk pupuk organik yang dibutuhkan oleh semua jenis tumbuhan. Kotoran sapi dapat menjadi sumber hara yang dapat memperbaiki struktur tanah sehingga menjadi lebih gembur dan subur.</p>
<p class="MsoBodyText">Semua organ tubuh sapi dapat dimanfaatkan antara lain:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:19.5pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]-->1)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Kulit, sebagai bahan industri tas, sepatu, ikat pinggang, topi, jaket.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:19.5pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]-->2)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Tulang, dapat diolah menjadi bahan bahan perekat/lem, tepung tulang dan barang kerajinan</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:19.5pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]-->3)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Tanduk, digunakan sebagai bahan kerajinan seperti: sisir, hiasan dinding dan masih banyak manfaat sapi bagi kepentingan manusia.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><strong>5.</strong><span> </span><strong>PERSYARATAN LOKASI</strong></p>
<p class="MsoBodyTextIndent"><span> </span>Lokasi yang ideal untuk membangun kandang adalah daerah yang letaknya cukup jauh dari pemukiman penduduk tetapi mudah dicapai oleh kendaraan. Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang serta dekat dengan lahan pertanian. Pembuatannya dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah atau ladang.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:25.45pt;text-indent:-21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><strong>6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></strong><!--[endif]--><strong>PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA</strong></p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:68.3pt;text-indent:-0.5in;"><!--[if !supportLists]--><strong>6.1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></strong><!--[endif]--><strong>Penyiapan Sarana dan Peralatan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoBodyText">Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran, sementara kandang yang bertipe ganda penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk jalan.</p>
<p class="MsoBodyText">Pembuatan kandang untuk tujuan penggemukan (kereman) biasanya berbentuk tunggal apabila kapasitas ternak yang dipelihara hanya sedikit. Namun, apabila kegiatan penggemukan sapi ditujukan untuk komersial, ukuran kandang harus lebih luas dan lebih besar sehingga dapat menampung jumlah sapi yang lebih banyak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Lantai kandang harus diusahakan tetap bersih guna mencegah timbulnya berbagai penyakit. Lantai terbuat dari tanah padat atau semen, dan mudah dibersihkan dari kotoran sapi. Lantai tanah dialasi dengan jerami kering sebagai alas kandang yang hangat.</p>
<p>Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus disuci hamakan terlebih dahulu dengan desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahanbahan lainnya.</p>
<p>Ukuran kandang yang dibuat untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5&#215;2 m atau 2,5&#215;2 m, sedangkan untuk sapi betina dewasa adalah 1,8&#215;2 m dan untuk anak sapi cukup 1,5&#215;1 m per ekor, dengan tinggi atas + 2-2,5 m dari tanah. Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (&gt; 500 m).</p>
<p>Kandang untuk pemeliharaan sapi harus bersih dan tidak lembab. Pembuatan kandang harus memperhatikan beberapa persyaratan pokok yang meliputi konstruksi, letak, ukuran dan perlengkapan kandang.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:19.5pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><strong><em><span>1)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></em></strong><!--[endif]--><strong><em>Konstruksi dan letak kandang</em></strong><strong><span style="font-weight:normal;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;text-align:justify;">Konstruksi kandang sapi seperti rumah kayu. Atap kandang berbentuk kuncup dan salah satu/kedua sisinya miring. Lantai kandang dibuat padat, lebih tinggi dari pada tanah sekelilingnya dan agak miring kearah selokan di luar kandang.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent2"><span> </span>Maksudnya adalah agar air yang tampak, termasuk kencing<br />
<span> </span>sapi mudah mengalir ke luar lantai kandang tetap kering.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent2">Bahan konstruksi kandang adalah kayu gelondongan/papan yang berasal<br />
dari kayu yang kuat. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat, tetapi agak<br />
terbuka agar sirkulasi udara didalamnya lancar.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent2">Termasuk dalam rangkaian penyediaan pakan sapi adalah air minum yang<br />
bersih. Air minum diberikan secara ad libitum, artinya harus tersedia dan<br />
tidak boleh kehabisan setiap saat.</p>
<p class="MsoBodyTextIndent2">Kandang harus terpisah dari rumah tinggal dengan jarak minimal 10 meter<br />
dan sinar matahari harus dapat menembus pelataran kandang. Pembuatan<br />
kandang sapi dapat dilakukan secara berkelompok di tengah sawah/ladang.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:19.5pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><em><strong>2)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></strong></em><!--[endif]--><em><strong>Ukuran Kandang</strong></em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2">Sebelum membuat kandang sebaiknya diperhitungkan lebih dulu jumlah sapi yang akan dipelihara. Ukuran kandang untuk seekor sapi jantan dewasa adalah 1,5 x 2 m. Sedangkan untuk seekor sapi betina dewasa adalah 1,8 x 2 m dan untuk seekor anak sapi cukup 1,5&#215;1 m.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:19.5pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><em><strong>3)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></strong></em><!--[endif]--><em><strong>Perlengkapan Kandang</strong></em></p>
<p class="MsoBodyTextIndent2">Termasuk dalam perlengkapan kandang adalah tempat pakan dan minum, yang sebaiknya dibuat di luar kandang, tetapi masih dibawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak/ tercampur kotoran. Tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi dari pada permukaan lantai.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:15pt;text-align:justify;">Dengan demikian kotoran dan air kencing tidak tercampur didalamnya. Perlengkapan lain yang perlu disediakan adalah sapu, sikat, sekop, sabit, dan tempat untuk memandikan sapi. Semua peralatan tersebut adalah untuk membersihkan kandang agar sapi terhindar dari gangguan penyakit sekaligus bisa dipakai untuk memandikan sapi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:25.45pt;text-indent:-21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><strong>7.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></strong><!--[endif]--><strong>Pembibitan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:8.2pt;">Syarat ternak yang harus diperhatikan adalah:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.95pt;text-indent:-26.25pt;"><!--[if !supportLists]-->1)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Mempunyai tanda telinga, artinya pedet tersebut telah terdaftar dan lengkap silsilahnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.95pt;text-indent:-26.25pt;"><!--[if !supportLists]-->2)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Matanya tampak cerah dan bersih.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.95pt;text-indent:-26.25pt;"><!--[if !supportLists]-->3)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Tidak terdapat tanda-tanda sering butuh, terganggu pernafasannya serta dari hidung tidak keluar lendir.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.95pt;text-indent:-26.25pt;"><!--[if !supportLists]-->4)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Kukunya tidak terasa panas bila diraba.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.95pt;text-indent:-26.25pt;"><!--[if !supportLists]-->5)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Tidak terlihat adanya eksternal parasit pada kulit dan bulunya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.95pt;text-indent:-26.25pt;"><!--[if !supportLists]-->6)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Tidak terdapat adanya tanda-tanda mencret pada bagian ekor dan dubur.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.95pt;text-indent:-26.25pt;"><!--[if !supportLists]-->7)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Tidak ada tanda-tanda kerusakan kulit dan kerontokan bulu.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:35.95pt;text-indent:-26.25pt;"><!--[if !supportLists]--> <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> <span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Pusarnya bersih dan kering, bila masih lunak dan tidak berbulu menandakan bahwa pedet masih berumur kurang lebih dua hari.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Untuk menghasilkan daging, pilihlah tipe sapi yang cocok yaitu jenis sapi Bali, sapi Brahman, sapi PO, dan sapi yang cocok serta banyak dijumpai di daerah setempat. Ciri-ciri sapi potong tipe pedaging adalah sebagai berikut:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;">1)<span> </span>tubuh dalam, besar, berbentuk persegi empat/bola.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;">2)<span> </span>kualitas dagingnya maksimum dan mudah dipasarkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;">3)<span> </span>laju pertumbuhannya relatif cepat.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;">4)<span> </span>efisiensi bahannya tinggi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal"><strong>6.3.</strong><span> </span><strong>Pemeliharaan</strong><br />
Pemeliharaan sapi potong mencakup penyediaan pakan (ransum) dan pengelolaan kandang. Fungsi kandang dalam pemeliharaan sapi adalah :<br />
a) Melindungi sapi dari hujan dan panas matahari.<br />
b) Mempermudah perawatan dan pemantauan.<br />
c) Menjaga keamanan dan kesehatan sapi.</p>
<p>Pakan merupakan sumber energi utama untuk pertumbuhan dan pembangkit tenaga. Makin baik mutu dan jumlah pakan yang diberikan, makin besar tenaga yang ditimbulkan dan masih besar pula energi yang tersimpan dalam bentuk daging.</p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><strong><em>Sanitasi dan      Tindakan Preventif</em></strong><br />
Pada pemeliharaan secara intensif sapi-sapi dikandangkan sehingga peternak      mudah mengawasinya, sementara pemeliharaan secara ekstensif pengawasannya      sulit dilakukan karena sapi-sapi yang dipelihara dibiarkan hidup bebas.</li>
<li class="MsoNormal"><em><strong>Pemberian      Pakan</strong></em><em><span style="font-style:normal;"></span></em></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;margin-left:0.25in;text-align:justify;">Pada umumnya, setiap sapi membutuhkan makanan berupa hijauan. Sapi dalam masa pertumbuhan, sedang menyusui, dan supaya tidak jenuh memerlukan pakan yang memadai dari segi kualitas maupun kuantitasnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;margin-left:0.25in;text-align:justify;">Pemberian pakan dapat dilakukan dengan 3 cara: yaitu penggembalaan (Pasture fattening), kereman (dry lot faatening) dan kombinasi cara pertama dan kedua.</p>
<p>Penggembalaan dilakukan dengan melepas sapi-sapi di padang rumput, yang biasanya dilakukan di daerah yang mempunyai tempat penggembalaan cukup luas, dan memerlukan waktu sekitar 5-7 jam per hari. Dengan cara ini, maka tidak memerlukan ransum tambahan pakan penguat karena sapi telah memakan bermacam-macam jenis rumput.</p>
<p>Pakan dapat diberikan dengan cara dijatah/disuguhkan yang yang dikenal dengan istilah kereman. Sapi yang dikandangkan dan pakan diperoleh dari ladang, sawah/tempat lain. Setiap hari sapi memerlukan pakan kira-kira sebanyak 10% dari berat badannya dan juga pakan tambahan 1% &#8211; 2% dari berat badan. Ransum tambahan berupa dedak halus atau bekatul, bungkil kelapa, gaplek, ampas tahu. yang diberikan dengan cara dicampurkan dalam rumput ditempat pakan. Selain itu, dapat ditambah mineral sebagai penguat berupa garam dapur, kapus. Pakan sapi dalam bentuk campuran dengan jumlah dan perbandingan tertentu ini dikenal dengan istilah ransum.</p>
<p>Pemberian pakan sapi yang terbaik adalah kombinasi antara penggembalaan dan keraman. Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi<br />
menjadi 3 katagori, yaitu hijauan segar, hijauan kering, dan silase. Macam hijauan segar adalah rumput-rumputan, kacang-kacangan (legu minosa) dan tanaman hijau lainnya. Rumput yang baik untuk pakan sapi adalah rumput gajah, rumput raja (king grass), daun turi, daun lamtoro.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;margin-left:0.25in;text-align:justify;">Hijauan kering berasal dari hijauan segar yang sengaja dikeringkan dengan tujuan agar tahan disimpan lebih lama. Termasuk dalam hijauan kering adalah jerami padi, jerami kacang tanah, jerami jagung, dsb. yang biasa digunakan pada musim kemarau. Hijauan ini tergolong jenis pakan yang banyak mengandung serat kasar.</p>
<p>Hijauan segar dapat diawetkan menjadi silase. Secara singkat pembuatan silase ini dapat dijelaskan sebagai berikut: hijauan yang akan dibuat silase ditutup rapat, sehingga terjadi proses fermentasi. Hasil dari proses inilah yang disebut silase. Contoh-contoh silase yang telah memasyarakat antara lain silase jagung, silase rumput, silase jerami padi, dll.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;margin-left:0.25in;text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;margin-left:0.25in;text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<ol type="1">
<li class="MsoNormal"><strong>Pemeliharaan Kandang</strong><strong><span style="font-weight:normal;"></span></strong></li>
</ol>
<p class="MsoBodyTextIndent3">Kotoran ditimbun di tempat lain agar mengalami proses fermentasi (+1-2 minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang yang sudah matang dan baik. Kandang sapi tidak boleh tertutup rapat (agak terbuka) agar sirkulasi udara didalamnya berjalan lancar.</p>
<p>Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai. Sediakan pula peralatan untuk memandikan sapi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><strong>7.</strong><span> </span><strong>HAMA DAN PENYAKIT</strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span><strong>7.1.</strong><span> </span><strong>Penyakit</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>1.<span> </span>Penyakit antraks</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>P</em></strong><span class="underline">enyebab</span>: Bacillus anthracis yang menular melalui kontak langsung, makanan/minuman atau pernafasan.</p>
<p style="margin-left:3pt;text-align:justify;"><strong><em>G</em></strong><span class="underline">ejala</span>: (1) demam tinggi, badan lemah dan gemetar; (2) gangguan pernafasan; (3) pembengkakan pada kelenjar dada, leher, alat kelamin dan badan penuh bisul; (4) kadang-kadang darah berwarna merah hitam yang keluar melalui hidung, telinga, mulut, anus dan vagina; (5) kotoran ternak cair dan sering bercampur darah; (6) limpa bengkak dan berwarna kehitaman.</p>
<p style="margin-left:3pt;text-align:justify;"><strong><em>P</em></strong><span class="underline">engendalian</span>: vaksinasi, pengobatan antibiotika, mengisolasi sapi yang terinfeksi serta mengubur/membakar sapi yang mati.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:21pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><em><strong>2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></strong></em><!--[endif]--><em><strong>Penyakit mulut dan kuku (PMK) atau penyakit Apthae epizootica (AE)</strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;"><strong><em>P</em></strong><span class="underline">enyebab</span>: virus ini menular melalui kontak langsung melalui air kencing, air susu, air liur dan benda lain yang tercemar kuman AE.<br />
Gejala: (1) rongga mulut, lidah, dan telapak kaki atau tracak melepuh serta terdapat tonjolan bulat berisi cairan yang bening; (2) demam atau panas, suhu badan menurun drastis; (3) nafsu makan menurun bahkan tidak mau makan sama sekali; (4) air liur keluar berlebihan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;"><strong><em><!--[if !supportEmptyParas]--> </em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;"><strong><em>P</em></strong><span class="underline">engendalian</span>: vaksinasi dan sapi yang sakit diasingkan dan diobati secara terpisah.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:21pt;text-align:justify;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]-->3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]--><strong><em>Penyakit ngorok/mendekur atau penyakit Septichaema epizootica (SE)</em></strong><br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;"><strong><em>P</em></strong><span class="underline">enyebab</span>: bakteri Pasturella multocida. Penularannya melalui makanan dan minuman yang tercemar bakteri.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;"><strong><em>G</em></strong><span class="underline">ejala</span>: (1) kulit kepala dan selaput lendir lidah membengkak, berwarna merah dan kebiruan; (2) leher, anus, dan vulva membengkak; (3) paru-paru meradang, selaput lendir usus dan perut masam dan berwarna merah tua; (4) demam dan sulit bernafas sehingga mirip orang yang ngorok. Dalam keadaan sangat parah, sapi akan mati dalam waktu antara 12-36 jam.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;"><strong><em>P</em></strong><span class="underline">engendalian</span>: vaksinasi anti SE dan diberi antibiotika atau sulfa.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><strong><em>4.</em></strong><span> </span><em><strong>Penyakit radang kuku atau kuku busuk (foot rot)</strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;">Penyakit ini menyerang sapi yang dipelihara dalam kandang yang basah dan kotor.<br />
<strong><em>G</em></strong><span class="underline">ejala</span>: (1) mula-mula sekitar celah kuku bengkak dan mengeluarkan cairan putih keruh; (2) kulit kuku mengelupas; (3) tumbuh benjolan yang menimbulkan rasa sakit; (4) sapi pincang dan akhirnya bisa lumpuh.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal"><strong>7.2.</strong><span> </span><strong>Pengendalian</strong><br />
Pengendalian penyakit sapi yang paling baik menjaga kesehatan sapi dengan tindakan pencegahan. Tindakan pencegahan untuk menjaga kesehatan sapi adalah:</p>
<p style="text-align:justify;margin:0 0 0.0001pt 2.9pt;">1.<span> </span>Menjaga kebersihan kandang beserta peralatannya, termasuk memandikan sapi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:2.9pt;text-align:justify;">2.<span> </span>Sapi yang sakit dipisahkan dengan sapi sehat dan segera dilakukan pengobatan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;">3.<span> </span>Mengusakan lantai kandang selalu kering.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;">4.<span> </span>Memeriksa kesehatan sapi secara teratur dan dilakukan vaksinasi sesuai petunjuk.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><strong>8.</strong><span> </span><strong>P A N E N</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong>8.1.</strong><span> </span><strong>Hasil Utama</strong><br />
Hasil utama dari budidaya sapi potong adalah dagingnya</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><strong>8.2.</strong><span> </span><strong>Hasil Tambahan</strong><br />
Selain daging yang menjadi hasil budidaya, kulit dan kotorannya juga sebagai hasil tambahan dari budidaya sapi potong.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><strong>9.</strong><span> </span><strong>PASCA PANEN</strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span><strong>9.1.</strong><span> </span><strong>Stoving</strong><br />
Ada beberapa prinsip teknis yang harus diperhatikan dalam pemotongan sapi agar diperoleh hasil pemotongan yang baik, yaitu:</p>
<p style="margin:0 0 0.0001pt 2.9pt;">1.<span> </span>Ternak sapi harus diistirahatkan sebelum pemotongan</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:2.9pt;">2.<span> </span>Ternak sapi harus bersih, bebas dari tanah dan kotoran lain yang dapat mencemari daging.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;">3.<span> </span>Pemotongan ternak harus dilakukan secepat mungkin, dan rasa sakit yang diderita ternak diusahakan sekecil mungkin dan darah harus keluar secara tuntas.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;">4.<span> </span>Semua proses yang digunakan harus dirancang untuk mengurangi jumlah dan jenis mikroorganisme pencemar seminimal mungkin.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:22.5pt;text-align:justify;text-indent:-21pt;"><!--[if !supportLists]--><strong>9.2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></strong><!--[endif]--><strong>Pengulitan</strong><br />
Pengulitan pada sapi yang telah disembelih dapat dilakukan dengan menggunakan pisau tumpul atau kikir agar kulit tidak rusak. Kulit sapi dibersihkan dari daging, lemak, noda darah atau kotoran yang menempel. Jika sudah bersih, dengan alat perentang yang dibuat dari kayu, kulit sapi dijemur dalam keadaan terbentang. Posisi yang paling baik untuk penjemuran dengan sinar matahari adalah dalam posisi sudut 45 derajat.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;text-align:justify;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:22.5pt;text-indent:-21pt;"><!--[if !supportLists]--><strong>9.3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></strong><!--[endif]--><strong>Pengeluaran Jeroan</strong><br />
Setelah sapi dikuliti, isi perut (visceral) atau yang sering disebut dengan jeroan dikeluarkan dengan cara menyayat karkas (daging) pada bagian perut sapi.</p>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:22.5pt;text-align:justify;text-indent:-21pt;"><!--[if !supportLists]--><strong><span>9.4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></strong><!--[endif]--><strong>Pemotongan Karkas</strong><strong><span style="font-weight:normal;"></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:22.5pt;text-align:justify;">Akhir dari suatu peternakan sapi potong adalah menghasilkan karkas berkualitas dan berkuantitas tinggi sehingga recahan daging yang dapat dikonsumsipun tinggi. Seekor ternak sapi dianggap baik apabila dapat menghasilkan karkas sebesar 59% dari bobot tubuh sapi tersebut dan akhirnya akan diperoleh 46,50% recahan daging yang dapat dikonsumsi. Sehingga dapat dikatakan bahwa dari seekor sapi yang dipotong tidak akan seluruhnya menjadi karkas dan dari seluruh karkas tidak akan seluruhnya menghasilkan daging yang dapat dikonsumsi manusia. Oleh karena itu, untuk menduga hasil karkas dan daging yang akan diperoleh, dilakukan penilaian dahulu sebelum ternak sapi potong. Di negara maju terdapat spesifikasi untuk pengkelasan (grading) terhadap steer, heifer dan cow yang akan dipotong.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;text-align:justify;">Karkas dibelah menjadi dua bagian yaitu karkas tubuh bagian kiri dan karkas tubuh bagian kanan. Karkas dipotong-potong menjadi sub-bagian leher, paha depan, paha belakang, rusuk dan punggung. Potongan tersebut dipisahkan menjadi komponen daging, lemak, tulang dan tendon. Pemotongan karkas harus mendapat penanganan yang baik supaya tidak cepat menjadi rusak, terutama kualitas dan hygienitasnya. Sebab kondisi karkas dipengaruhi oleh peran mikroorganisme selama proses pemotongan dan pengeluaran jeroan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;text-align:justify;">Daging dari karkas mempunyai beberapa golongan kualitas kelas sesuai dengan lokasinya pada rangka tubuh. Daging kualitas pertama adalah daging di daerah paha (round) kurang lebih 20%, nomor dua adalah daging daerah pinggang (loin), lebih kurang 17%, nomor tiga adalah daging daerah punggung dan tulang rusuk (rib) kurang lebih 9%, nomor empat adalah daging daerah bahu (chuck) lebih kurang 26%, nomor lima adalah daging daerah dada (brisk) lebih kurang 5%, nomor enam daging daerah perut (frank) lebih kurang 4%, nomor tujuh adalah daging daerah rusuk bagian bawah sampai perut bagian bawah (plate &amp; suet) lebih kurang 11%, dan nomor delapan adalah daging bagian kaki depan (foreshank) lebih kurang 2,1%. Persentase bagian-bagian dari karkas tersebut di atas dihitung dari berat karkas (100%).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;text-align:justify;">Persentase recahan karkas dihitung sebagai berikut:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.15pt;">Persentase recahan karkas = Jumlah berat recahan / berat karkas x 100 %</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;">
Istilah untuk sisa karkas yang dapat dimakan disebut edible offal, sedangkan yang tidak dapat dimakan disebut inedible offal (misalnya: tanduk, bulu, saluran kemih, dan bagian lain yang tidak dapat dimakan).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><strong>10.</strong><span> </span><strong>ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN</strong></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span><strong>10.1.</strong><span> </span><strong>Analisis Usaha Budidaya</strong><br />
Perkiraan analisis budidaya sapi potong kereman setahun di Bangli skala 25 ekor pada tahun 1999 adalah sebagai berikut:</p>
<p><strong><em>1) Biaya Produksi</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;">a.<span> </span>Pembelian 25 ekor bakalan : 25 x 250 kg x Rp. 7.800,- <span> </span>Rp. 48.750.000,-</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;">b.<span> </span>Kandang <span> </span><span> </span>Rp.<span> </span>1.000.000,-</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;">c.<span> </span>Pakan<br />
- Hijauan: 25 x 35 kg x Rp.37,50 x 365 hari <span> </span><span> </span>Rp. 12.000.000,-</p>
<p>- Konsentrat: 25 x 2kg x Rp. 410,- x 365 hari <span> </span><span> </span>Rp.<span> </span>7.482.500,-</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><span> </span><span></span>d.<span> </span>Retribusi kesehatan ternak: 25 x Rp. 3.000,- <span> </span><span> </span>Rp.<span> </span>75.000,-</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><span> </span><strong>Jumlah biaya produksi </strong><span> </span><span> </span><strong>Rp. 69.307.500,-</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><strong><em>2) Pendapatan</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;">a.<span> </span>Penjualan sapi kereman<br />
Tambahan berat badan: 25 x 365 x 0,8 kg = 7.300 kg<br />
Berat sapi setelah setahun: (25 x 250 kg) + 7.300 kg = 13.550 kg<br />
Harga jual sapi hidup: Rp. 8.200,-/kg x 13.550 kg <span> </span><span> </span>Rp. 111.110.000,-</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;">b.<span> </span>Penjualan kotoran basah: 25 x 365 x 10 kg x Rp. 12,-<span> </span>Rp.<span> </span>1.095.000,-</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><span> </span><strong>Jumlah pendapatan</strong><span> </span><span> </span><strong>Rp. 112.205.000,-</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><em>3) Keuntungan</em></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;">a.<span> </span>Tanpa memperhitungkan biaya tenaga internal keuntungan Penggemukan 25 ekor sapi selama setahun. <span> </span><span> </span>Rp. 42.897.500,-</p>
<p class="MsoNormal"><em><strong>4) Parameter kelayakan usaha</strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;">a.<span> </span>B/C ratio<span> </span><span> </span>= 1,61</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:0.5in;text-align:justify;text-indent:-0.5in;"><!--[if !supportLists]--><strong>10.2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></strong><!--[endif]--><strong>Gambaran Peluang Agribisnis</strong></p>
<p class="MsoBodyText">Sapi potong mempunyai potensi ekonomi yang tinggi baik sebagai ternak potong maupun ternak bibit. Selama ini sapi potong dapat mempunyai kebutuhan daging untuk lokal seperti rumah tangga, hotel, restoran, industri pengolahan, perdagangan antar pulau. Pasaran utamanya adalah kota-kota besar seperti kota metropolitan Jakarta.<br />
<!--[if !supportLineBreakNewLine]--></p>
<p class="MsoBodyText"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoBodyText"><!--[if !supportEmptyParas]--><!--[endif]--></p>
<p class="MsoBodyText">Konsumen untuk daging di Indonesia dapat digolongkan ke dalam beberapa segmen yaitu :</p>
<p style="margin-top:0;text-align:justify;"><em><strong>a)<span> </span>Konsumen Akhir</strong></em></p>
<p style="margin-top:0;text-align:justify;">Konsumen akhir, atau disebut konsumen rumah tangga adalah pembeli-pembeli yang membeli untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan individunya. Golongan ini mencakup porsi yang paling besar dalam konsumsi daging, diperkirakan mencapai 98% dari konsumsi total.</p>
<p>Mereka ini dapat dikelompokkan lagi ke dalam ova sub segmen yaitu :</p>
<p style="margin-left:3pt;text-align:justify;">1.<span> </span>Konsumen dalam negeri ( Golongan menengah keatas )</p>
<p style="margin-left:3pt;text-align:justify;">Segmen ini merupakan segmen terbesar yang kebutuhan dagingnya kebanyakan dipenuhi dari pasokan dalam negeri yang masih belum memperhatikan kualitas tertentu sebagai persyaratan kesehatan maupun selera.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:21pt;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]-->2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Konsumen asing</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;">Konsumen asing yang mencakup keluarga-keluarga diplomat, karyawan perusahaan dan sebagian pelancong ini porsinya relatif kecil dan tidak signifikan. Di samping itu juga kemungkinan terdapat konsumen manca negara yang selama ini belum terjangkau oleh pemasok dalam negeri, artinya ekspor belum dilakukan/jika dilakukan porsinya tidak signifikan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;"><em><strong>b)</strong></em><span> </span><em><strong>Konsumen Industri</strong></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3pt;text-align:justify;">Konsumen industri merupakan pembeli-pembeli yang menggunakan daging untuk diolah kembali menjadi produk lain dan dijual lagi guna mendapatkan laba. Konsumen ini terutama meliputi: hotel dan restauran dan yang jumlahnya semakin meningkat</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Adapun mengenai tata niaga daging di negara kita diatur dalam inpres nomor 4 tahun 1985 mengenai kebijakansanakan kelancaran arus barang untuk menunjang kegiatan ekonomi. Di Indonesia terdapat 3 organisasi yang bertindak seperti pemasok daging yaitu :</p>
<p style="margin-left:21pt;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]-->a)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->KOPPHI (Koperasi Pemotongan Hewan Indonesia), yang mewakili pemasok produksi peternakan rakyat.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:21pt;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]-->b)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->APFINDO (Asosiasi Peternak Feedlot (penggemukan) Indonesia), yang mewakili peternak penggemukan</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:21pt;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]-->c)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->ASPIDI (Asosiasi Pengusaha Importir Daging Indonesia).</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1.5pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p><strong>11.</strong><span> </span><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:57pt;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;">·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Abbas Siregar Djarijah. 1996, Usaha Ternak Sapi, Kanisius, Yogyakarta.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:57pt;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;">·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Yusni Bandini. 1997, Sapi Bali, Penebar Swadaya, Jakarta.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:57pt;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;">·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Teuku Nusyirwan Jacoeb dan Sayid Munandar. 1991, Petunjuk Teknis Pemeliharaan Sapi Potong, Direktorat Bina Produksi Peternaka</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:57pt;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;">·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian, Jakarta Undang Santosa. 1995, Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi, Penebar Swadaya, Jakarta.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:57pt;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;">·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Lokakarya Nasional Manajemen Industri Peternakan. 24 Januari 1994,Program Magister Manajemen UGM, Yogyakarta.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:57pt;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:Symbol;">·<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]-->Kohl, RL. and J.N. Uhl. 1986, Marketing of Agricultural Products, 5 th ed, Macmillan Publishing Co, New York.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><!--[if !supportEmptyParas]--></p>
<p class="MsoNormal"><strong>12.</strong><span> </span><strong>KONTAK HUBUNGAN</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:1in;text-indent:-0.25in;"><!--[if !supportLists]-->1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan – BAPPENAS<br />
Jl.Sunda Kelapa No. 7 Jakarta, Tel. 021 390 9829 , Fax. 021 390 9829</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:3.7pt;"><!--[if !supportLists]-->2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi, Deputi Bidang Pendayagunaan dan Pemasyarakatan Iptek, Gedung II BPPT Lantai 6, Jl. M.H.Thamrin No. 8, Jakarta 10340, Indonesia, Tel. +62 21 316 9166~69, Fax. +62 21 310 1952, Situs Web: <a href="http://www.ristek.go.id/" target="_blank"></a><!--[endif]--></p>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;"><em><strong>Sumber :</strong></em><br />
Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan, Bappenas</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sutanmuda.wordpress.com/158/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sutanmuda.wordpress.com/158/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sutanmuda.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sutanmuda.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sutanmuda.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sutanmuda.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sutanmuda.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sutanmuda.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sutanmuda.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sutanmuda.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sutanmuda.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sutanmuda.wordpress.com/158/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sutanmuda.wordpress.com&blog=1236765&post=158&subd=sutanmuda&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/22/budidaya-ternak-sapi-potong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bbc0e24b4df5ca533a69b35c01641ddd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sutanmuda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pakan Alami, Perkecil Biaya Produksi Peternakan Itik</title>
		<link>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/16/pakan-alami-perkecil-biaya-produksi-peternakan-itik/</link>
		<comments>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/16/pakan-alami-perkecil-biaya-produksi-peternakan-itik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jul 2008 03:46:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sutanmuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bebek atau itik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sutanmuda.wordpress.com/?p=155</guid>
		<description><![CDATA[Banyaknya peternak yang gagal dalam usaha beternak itik petelur, umumnya diakibatkan penghasilan yang tidak sebanding dengan modal yang harus dikeluarkan. Hal itu disebabkan, itik selalu membutuhkan bahan makanan yang cukup dan penuh kalori agar itik yang diternakkan memproduksi telur dengan baik setiap harinya.

Dari hasil survei yang dilakukan Biro Pusat Statistik (BPS), usaha peternakan itik baik [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sutanmuda.wordpress.com&blog=1236765&post=155&subd=sutanmuda&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Banyaknya peternak yang gagal dalam usaha beternak itik petelur, umumnya diakibatkan penghasilan yang tidak sebanding dengan modal yang harus dikeluarkan. Hal itu disebabkan, itik selalu membutuhkan bahan <span id="more-155"></span>makanan yang cukup dan penuh kalori agar itik yang diternakkan memproduksi telur dengan baik setiap harinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
Dari hasil survei yang dilakukan Biro Pusat Statistik (BPS), usaha peternakan itik baik milik usaha rumah tangga maupun usaha perorangan dengan minimal 3.000 ekor itik per peternak, yang berhasil mengembangkannya adalah peternak itik yang membuka usahanya di kawasan pesisir pantai di Sumatera Utara (Sumut).</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
Itu, karena daerah pesisir yang berdekatan dengan pantai membuat para peternak dengan mudah memperoleh dan membeli bahan pakan dari kaum nelayan dengan harga murah. Selain pakan tersebut berasal dari biota laut seperti siput, anak ikan dan sejenisnya yang dihasilkan nelayan sebagai limbah hasil tangkapan, biota air tersebut banyak mengandung kalori dan gizi yang diperlukan itik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
Sedangkan para peternak itik di daerah pemukiman yang jauh dari pantai seperti dataran tinggi, kebanyakan mengalami kegagalan yang terus menerus hingga menyebakan usahanya mengalami gulung tikar. Wajar saja, karena para peternak memang terbebani dengan kost yang tinggi. Harga pakan seperti jagung dan dedak semakin lama semakin melonjak, sementara makanan berkalori dari biota air yang dibutuhkan itik sulit didapat. Walaupun dapat diupayakan membelinya, namun harganya mungkin menjadi mahal akibat biaya transportasi. Akhirnya makanan berkalori yang diperlukan itik untuk merangsang supaya bertelur tidak terpenuhi. Ini mengakibatkan itik tidak bertelur dan mengalami keafkiran yang sangat panjang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
Dari pantauan MedanBisnis selama sepekan terakhir di kawasan pesisiran kabupaten Langkat, menunjukan, kalangan peternak itik petelur yang ada mampu bertahan dan berkembang. Misalnya, di Desa Pematang Cengal Kecamatan Tanjungpura, ada 10 sentra kelompok usaha peternak itik. Satu sentra terdiri 6-8 orang anggota kelompok ternak itik yang pernah mendapat bantuan dari pemerintah. Usaha mereka per-sentranya menernakkan itik peking petelur rata-rata 3.000 ekor.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
Milik Paimanto di Pematang Cengal, misalnya, itik petelur tersebut setiap harinya digembala di tepian sungai untuk dimandikan supaya kondisi itik tetap sehat. Dan selanjutnya itik-itik tersebut kembali dikarantina dalam lokasi kandang untuk bertelur dan makan. Sedangkan pakannya didatangkan dari hasil laut oleh nelayan seperti siput rantai dan anak ikan ditambah pakan lainnya berupa dedak kulit gabah.Ada juga peternakan itik tertutup di kawasan pinggiran pantai di daerah Pangkalanbrandan. Para peternak itik ini umumnya peternakan itik air untuk memproduksi telur itik segar.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
Iskandar (32), salah seorang peternak itik di Jalan Meriam Kelurahan Sei Bilah Pangkalanbrandan kabupaten Langkat. Ini merupakan peternak itik milik usaha per orangan dengan jumlah ternak 5.000 ekor dan mampu memproduksi telur segar setiap harinya 3.000-an butir.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
Cara peternakan yang dilakukannya adalah dengan cara membuat barak untuk berkumpulnya itik dengan sistem pengurungan. Peternakan ini mampu berkembang sejak ditekuninya lima tahun lalu. Semua pakan ternaknya berasal dari biota air seperti jenis kerang dan anak ikan, serta ditopang dengan dedak kulit gabah untuk membantu pertumbuhan bulu pada itik .</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
“Usaha di tepi pantai bisa membantu memperkecil pengeluaran. Sedangkan itik yang diternak juga cukup gizi dengan pemberian pakan dari laut yang dibeli dari nelayan. Semua itik yang tidak lagi bertelur karena sudah ketuaan, itu juga laku dijual dipasar,” sebut Iskandar kepada MedanBisnis, Selasa (15/7).</p>
<p><strong><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">MedanBisnis</span></strong></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sutanmuda.wordpress.com/155/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sutanmuda.wordpress.com/155/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sutanmuda.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sutanmuda.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sutanmuda.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sutanmuda.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sutanmuda.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sutanmuda.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sutanmuda.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sutanmuda.wordpress.com/155/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sutanmuda.wordpress.com/155/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sutanmuda.wordpress.com/155/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sutanmuda.wordpress.com&blog=1236765&post=155&subd=sutanmuda&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/16/pakan-alami-perkecil-biaya-produksi-peternakan-itik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bbc0e24b4df5ca533a69b35c01641ddd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sutanmuda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Liukan Bisnis Lele</title>
		<link>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/10/liukan-bisnis-lele/</link>
		<comments>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/10/liukan-bisnis-lele/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 08:06:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sutanmuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budidaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sutanmuda.wordpress.com/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[Awal Juni 2006, Darseno menebar 15.000 bibit lele di kolam berukuran 4 m x 12 m. Selang 3 bulan, dari kolam sama dijala 11 kuintal Clarias batrachus. Dengan harga Rp7.800/kg (sekilo isi 7-12 ekor), pensiunan penyuluh pertanian itu menggenggam pendapatan Rp8,6-juta. Setelah dikurangi biaya produksi, laba bersih Rp1,7-juta diperoleh dalam tempo 3 bulan.
Kolam berdinding tembok [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sutanmuda.wordpress.com&blog=1236765&post=151&subd=sutanmuda&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Awal Juni 2006, Darseno menebar 15.000 bibit lele di kolam berukuran 4 m x 12 m. Selang 3 bulan, dari kolam sama dijala 11 kuintal Clarias batrachus. Dengan harga Rp7.800/kg (sekilo isi 7-12 ekor), pensiunan penyuluh pertanian itu menggenggam pendapatan Rp8,6-juta. Setelah dikurangi biaya produksi, laba bersih Rp1,7-juta diperoleh dalam tempo 3 bulan.</span></em></p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-151"></span><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Kolam berdinding tembok di atas bekas sawah itu dikelola Darseno secara intensif. Peternak di Tegalrejo, Boyolali, itu mengatur padat penebaran 200-500 bibit ukuran 5-7 cm/m<sup>2</sup>. Untuk memanen 90 kg lele, Darseno memberi sekuintal pakan. Dengan cara itu bobot lele bisa mencapai 80-120 g/ekor.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Saat panen tiba, pengepul dari Yogyakarta, Salatiga, Solo, dan Klaten, berebut menampung. Dengan harga bedol kolam Rp7.800/kg, setiap panen diraup pendapatan Rp8,6-juta/kolam. Pendapatannya kian menggembung karena selain kolam di belakang rumah, ayah 1 putri itu mengelola 29 kolam lain seluas 40-50 m<sup>2</sup>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;color:green;">Kampung lele</span></strong></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Sukses Darseno bagaikan lokomotif kereta bagi warga lain. Ir Indradi, misalnya, mengubah 2 petak sawah menjadi kolam berukuran 4 m x 13 m. Tiap kolam diisi 20.000 bibit asal pembibit di Tulungagung. &#8216;Saat itu hanya keluar modal Rp10- juta,&#8217; tutur alumnus Universitas Tunas Pembangunan di Solo itu. Seperti Darseno, Indradi mampu meraih laba bersih Rp1,7-juta/kolam/panen. Modal yang dikeluarkan bisa ditebus 15 bulan kemudian.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Awal 2006 Indradi menambah 8 kolam. Maklum permintaan yang mengalir melonjak 100%. Semula Indradi bisa melepas 22 kuintal per 3 bulan. Kini ia harus menyediakan setidaknya 44 kuintal/bulan. Setelah dihitung-hitung penghasilan yang diberikan lele lebih menjanjikan daripada bercocok tanam. Darseno menghitung sepetak lahan sawah seluas 2.500 m<sup>2</sup> hanya memberi keuntungan Rp1-juta per 4 bulan. Kolam lele seluas 10 m<sup>2</sup> dapat memberi laba bersih Rp250.000/3 bulan.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">&#8216;Karena semua beternak, desa kami bisa menjual 7- 10 ton/hari,&#8217; ujar Darseno. Maklum hampir semua warga mengusahakan lele. Gara-gara demam beternak Clarias batrachus, desa itu kini berjuluk Kampung Lele. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;color:green;">Permintaan naik</span></strong></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Gurihnya bisnis lele juga dicecap Wagiran di Kulonprogo, Kecamatan Wates, Yogyakarta. Tiap 3 bulan ia menebar 20.000 bibit ukuran 2-3 cm di kolam 4 m x 8 m. Waktu panen tiba, 15.000 lele berbobot 100-150 g/ekor terjaring. Dengan harga jual Rp8.500/kg, ketua Kelompok Tani Trunojoyo itu memperoleh omzet Rp17,5- juta.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Wagiran tidak sendiri. Bersama kelompok taninya yang beranggotakan 55 orang, setiap hari harus mengisi 20 ton lele ke pasar Yogyakarta. Jumlah itu baru 30% dari total permintaan. &#8216;Sisanya datang dari pengepul di Jawa Tengah dan Jawa Timur,&#8217; ujarnya. Kondisi serupa dialami Kelompok Tani Mina Segar di Moyundan, Yogyakarta. Mereka kini harus menyediakan 600 kg lele/hari untuk mencukupi pasar di Sleman dan Purworejo.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Tingginya permintaan lele pun dialami 112 peternak di Desa Jombang, Jawa Timur. Total produksi mereka pada 2005 mencapai 183.457 kg. Kini hingga Agustus 2006, naik menjadi 169.990 kg untuk memenuhi pasar di Jawa Timur dan Jakarta. Dengan luas kolam masing-masing peternak rata-rata 30 m2, setiap tahun diperoleh pendapatan Rp14-juta.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;color:green;">Harga meroket</span></strong></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Lacakan <em>Trubus</em> menunjukkan kebutuhan lele terus meningkat, yang dibarengi kenaikan harga. Pada akhir 2005 harga sekilo lele di tingkat peternak Rp6.200/ kg. Sejak Juni 2006 melonjak menjadi Rp8.500/kg. Harga tahun ini memang paling tinggi, ujar Wagiran. Penyebabnya beberapa sentra mengalami kekeringan dan bencana alam sehingga produksi turun.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Naiknya harga lele ukuran konsumsi memicu lonjakan harga bibit. Sekarang harga bibit naik. Ukuran 2-3 cm, Rp30/ ekor; 3-4 cm, Rp95/ekor; 5-7 cm, Rp110/ekor; dan 7-9 cm, Rp150/ekor, ujar Wagiran. Pada 2004, harga jual bibit berukuran 5-7 cm Rp100/ekor. Kenaikan itu ditengarai sebagai dampak musim kering yang lazim terjadi pada Juni-September.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Di Parung, Bogor, Bana membeli bibit berukuran 7 cm Rp500/ekor. Padahal awal 2006 hanya Rp150/ekor. &#8216;Naiknya harga bibit diikuti kenaikan harga lele konsumsi, selisihnya sekitar Rp1.000/kg,&#8217; ujar staf Rawa Cuek Fish Farm di Parung, Kabupaten Bogor, itu.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Hal itu diamini Bariyo di Yogyakarta. Akhir 2005 Ketut-panggilan akrab Bariyo-menjual sekilo lele ke rumah makan dan pasar tradisional seharga Rp9.500/kg.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Nilai itu kini naik Rp10.000-Rp11.500/kg. Kenaikan dan penurunan harga biasanya di kisaran Rp1.000-1.500/kg, ucap Bariyo yang menjual 4-5 kuintal lele/hari. Bahkan di pasar tradisional, Bariyo mampu melepas Rp14.000/kg. Tak hanya pasar dalam negeri, pasar ekspor ternyata meminati lele. Pemerintah Yogyakarta pada 2006 pernah mencanangkan ekspor lele ke Vietnam. Sayang, lantaran gempa menimpa Bantul-salah satu sentra lele terbesar di Yogyakarta-produksi lele anjlok hingga75%. Tak kurang 1.500 peternak berhenti berproduksi.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Menurut Koesnan Maryono, MM, kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, pemerintah daerah menyediakan dana Rp8,5-miliar untuk memperbaiki semua fasilitas yang rusak. &#8216;Rencananya kami siap mengekspor pada 2007 ke Vietnam. Yang diminta ukuran 500 g/ekor,&#8217; ucap Koesnan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><strong><span style="font-size:13.5pt;font-family:Arial;color:green;">Batu krikil</span></strong></em><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;"> </span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Manisnya laba lele dibayangi beragam kendala. Salah satunya pasokan air. Lantaran musim kering, peternak di Parung, Bogor, dan Indramayu kini banyak gulung tikar. Contoh Rahmat A. R di Gunung Sindur Bogor, yang malang-melintang sejak 1990 itu berhenti sejak 6 bulan lalu. Duapuluh kolam berukuran 10 m x 20 m x 1 m dibiarkan kosong. &#8216;Sebelum kemarau, panen bisa 4-5 ton,&#8217; ungkapnya.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Itu pula yang dialami Yayat Nurhayat di Desa Cibinong, Bogor. Selama musim kering Yayat hanya mengoperasikan 15 kolam dari 50 kolam yang ada. Produksinya menyusut tinggal 165 kuintal/4 bulan, mestinya 550 kuintal/4 bulan. Akibatnya, keuntungan pun berkurang.</span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Hambatan lain, harga pakan yang terus meningkat membuat peternak ketar-ketir. Biaya pakan menyedot 80% dari total biaya produksi. Produksi 11 kuintal dari kolam berukuran 4 m x 12 m menyerap 12 kuintal pakan. &#8216;Kalau harga pelet sekarang Rp135.000/30 kg, total pengeluaran mencapai Rp5,4-juta,&#8217; ujar Darseno.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;color:black;">Penyakit bercak merah pun membayangi. Penyakit ini menyebabkan pertumbuhan lele terhambat. &#8216;Lele masih bisa dipanen, tapi harganya turun sampai selisih Rp2.000/kg,&#8217; tutur Darseno. Namun, bila semua kendala teratasi pendapatan lumayan seperti yang diperoleh Darseno bukan tidak mungkin digenggam. (<strong>Lastioro Anmi Tambunan/Peliput: Lani Marliani</strong>)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p><span style="font-size:12pt;font-family:Verdana;color:#0036ff;">UJI COBA LELE DENGAN SUPRA Alam Lestari MENGAGUMKAN </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;color:#3d3f48;">Mencoba pupuk SUPRA Alam Lestari mulai Juni 2000 dari . Ny. Djoko Hadi Santoso (Ibu dari Nn. Dian Retno WN, StockistAB 31)<br />
• Saya mencoba pada ikan lele dumbo dengan SUPRA Alam Lestari pada bak ukuran 3,5 m x 1,5 m dengan jumlah 850 ekor, usia ikan lele pada saat itu 1,5 bulan.<br />
• Adapun cara penggunaan SUPRA Alam Lestari pada ikan lele : O Pupuk SUPRA Alam Lestari dengan dosis 20 cc/ 5 liter air dicampur, kemudian disemprotkan pada pellet ikan (makanan ikan). Setelah itu dibiarkan/dlangin-anginkan dulu selama beberapa saat.<br />
• Pelet ikan kemudian diberikan pada lele yang ada di bak/kolam (setiap hari 1 kali)<br />
Pada umur 2 bulan 20 hari ikan lele baru dipanen.<br />
• Saya sungguh merasa kagum, karena baru pertama kali ini melihat lele besar-besar dan bobotnya lebih berat dari panen-panen yang terdahulu.<br />
• Untuk lkg jumlahnya rata-rata 67 ekor.(sewaktu penen terdahulu 8-10ekor/kg)<br />
• Pada periode selanjutnya SUPRA Alam Lestari saya gunakan untuk 2000 ekor bibit lele.<br />
• Cara penggunaan SUPRA Alam Lestari dari awal sampai panen<br />
• Tuanakan 100 cc 120 cc SUPRA (maksimal 200 cc) dengan ukuran kolam 7 m x 7 m dengan ketinggian air pertama 20 cm2, dengan tujuan menghasilkan makanan dan plankton-plankton di dalam air kolam tersebut (kalau bisa diberi potongan-potongan pelepah dan daun pepaya). Biarkan selama 1 minggu.<br />
• Pada sore harinya bibit lele baru ditebarkan kekolam/bak yang telah dipersiapkan.<br />
• Setiap pagi saat terik matahari belum panas. lele lele tersebut diberikan SUPRA Alam Lestari dengan dosis 10 cc sampai dengan umur lele 20 hari.<br />
• Umur 20 hari sampai dengan saat panen diberikan SUPRA Alam Lestari dengan dosis 10 cc ditambah dengan makanan ikan (pellet ikan) yang telah disemprotkan dengan<br />
SUPRA Alam Lestari dosis 10 cc/ 5 liter air.<br />
• Untuk masa panen lebih baik dipercepat, karena biasanya ikan lele akan lebih besar dari waktu panen biasanya, karena ternyata dengan SUPRA Alam Lestari pertumbuhan ikan relatif lebih cepat.<br />
• Waktu panen saya kurangi menjadi 2 bulan 5 hari, mengapa? karena para pembeli ikan lele khususnya di Yogyakarta banyak dikonsumsi untuk waruna warung lesehan, jika ikan lele terlalu besar/timbangan perekornya berat mereka akan rugi, padahal yang dihitung adalah jumlah per ekor ikan lelenya.<br />
• Dengan SUPRA Alam Lestari beternak ikan terasa lebih mudah dan sederhana, ikan sehat, pertumbuhan cepat dan ikan lele prosentasi kematiannya rendah dan hampir tidak ada.<br />
• Catatan bagi para peternak ikan lele, kalau bisa harus hati-hati menebarkan bibit lele pada saat musim kemarau, utamanya antara bulan Juni Agustus karena faktor cuaca/kondisinya panas dan kurang mendukung sehingga hal ini akan mempengaruhi ikan, kalau tidak waspada ikan-ikan lele banyak yang kepayahan dan mati.<br />
(Kesaksian 05 September2000)</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;color:#3d3f48;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<table style="width:101.02%;margin-left:-2.2pt;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="padding:0;" colspan="2">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:9pt;font-family:Arial;color:#3d3f48;">Penggunaan untuk pakan :</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding:1.5pt;" valign="top">
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
</td>
<td style="padding:1.5pt;" colspan="2" valign="top">
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Larutkan 5 cc Suravit        Pedaging dan 5 cc Supra Alam Lestri dalam 1 liter air. </span></li>
<li class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;">Sempprotkan pada 10 kg pakan        lele (pelet) dengan pengkabutan, kemudian ditiriskan dan dijemur selama        ½ jam baru pakan siap untuk digunakan. </span></li>
</ul>
</td>
</tr>
<p><!--[if !supportMisalignedColumns]--></p>
<tr>
<td style="border:medium none;" width="107"></td>
<td style="border:medium none;" width="455"></td>
<td style="border:medium none;" width="22"></td>
</tr>
<p><!--[endif]--></tbody>
</table>
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:9pt;font-family:Verdana;color:#3d3f48;"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></span></p>
<table style="width:100%;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="padding:0;"></td>
</tr>
<tr>
<td style="padding:0;"></td>
</tr>
<tr>
<td style="padding:0;"></td>
</tr>
<tr>
<td style="padding:0;"></td>
</tr>
<tr>
<td style="padding:0;" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table style="width:100%;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td style="background:#e4c781 none repeat scroll 0 50%;width:100%;padding:0;" width="100%">
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:Arial;">Teknis Budidaya   Ikan Lele Dumbo / Patin </span></strong></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;"><strong><span style="font-family:Arial;">BIBIT</span></strong></p>
<div>
<table style="width:95%;margin-left:0.5in;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="95%">
<tbody>
<tr>
<td style="width:19%;padding:0;" width="19%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ukuran   Bibit</span></p>
</td>
<td style="width:81%;padding:0;" width="81%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Dipilih   bibit yang seragam berukuran minimum 5 gram/ekor</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:19%;padding:0;" width="19%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Seleksi   Bibit</span></p>
</td>
<td style="width:81%;padding:0;" width="81%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Berasal   dari keturunan yang berkualitas tinggi, strain yang baik, aktif bergerak,   tidak cacat, serta hasil seleksi.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:19%;padding:0;" width="19%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Padat   Penebaran</span></p>
</td>
<td style="width:81%;padding:0;" width="81%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">75 &#8211; 100   ekor/m<sup>3</sup></span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:19%;padding:0;" width="19%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Penebaran   Bibit</span></p>
</td>
<td style="width:81%;padding:0;" width="81%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:10pt;font-family:Arial;">Ditebarkan   pada air yang sudah subur plankton, pada sore atau pagi hari, diperlukan   penyesuaian lebih dulu terhadap lingkungan baru</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;"><strong><span style="font-family:Arial;">PAKAN</span></strong></p>
<div>
<table style="background:#f8dc6b none repeat scroll 0 50%;width:95%;margin-left:0.5in;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="95%" bgcolor="#f8dc6b">
<tbody>
<tr>
<td style="width:28%;padding:0;" width="28%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">Umur   Pemeliharaan (hari)</span></p>
</td>
<td style="width:10%;padding:0;" width="10%">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">1-7</span></p>
</td>
<td style="width:10%;padding:0;" width="10%">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">&gt;7-15</span></p>
</td>
<td style="width:11%;padding:0;" width="11%">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">&gt;15-30</span></p>
</td>
<td style="width:10%;padding:0;" width="10%">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">&gt;30-45</span></p>
</td>
<td style="width:12%;padding:0;" width="12%">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">&gt;45-60</span></p>
</td>
<td style="width:10%;padding:0;" width="10%">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">&gt;60-75</span></p>
</td>
<td style="width:9%;padding:0;" width="9%">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">&gt;75-90</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:28%;padding:0;" width="28%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">Berat   Standard</span></p>
</td>
<td style="width:10%;padding:0;" width="10%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">5-10 gr</span></p>
</td>
<td style="width:10%;padding:0;" width="10%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">10-20 gr</span></p>
</td>
<td style="width:11%;padding:0;" width="11%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">20-50 gr</span></p>
</td>
<td style="width:10%;padding:0;" width="10%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">50-100 gr</span></p>
</td>
<td style="width:12%;padding:0;" width="12%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">100-200 gr</span></p>
</td>
<td style="width:10%;padding:0;" width="10%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">200-300 gr</span></p>
</td>
<td style="width:9%;padding:0;" width="9%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">&gt; 300   gr</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:28%;padding:0;" width="28%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">Jenis   Pakan (kode) CP</span></p>
</td>
<td style="width:10%;padding:0;" width="10%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">781-2</span></p>
</td>
<td style="width:10%;padding:0;" width="10%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">781-2</span></p>
</td>
<td style="width:11%;padding:0;" width="11%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">781-3</span></p>
</td>
<td style="width:10%;padding:0;" width="10%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">781-3</span></p>
</td>
<td style="width:12%;padding:0;" width="12%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">781-3</span></p>
</td>
<td style="width:10%;padding:0;" width="10%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">782</span></p>
</td>
<td style="width:9%;padding:0;" width="9%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">782</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:28%;padding:0;" width="28%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">Jumlah   Pakan (%BB)</span></p>
</td>
<td style="width:10%;padding:0;" width="10%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">ad libitum</span></p>
</td>
<td style="width:10%;padding:0;" width="10%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">10-8% BB</span></p>
</td>
<td style="width:11%;padding:0;" width="11%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">10-8%BB</span></p>
</td>
<td style="width:10%;padding:0;" width="10%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">8-6% BB</span></p>
</td>
<td style="width:12%;padding:0;" width="12%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">6-4% BB</span></p>
</td>
<td style="width:10%;padding:0;" width="10%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">4-3% BB</span></p>
</td>
<td style="width:9%;padding:0;" width="9%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">4-3% BB</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:28%;padding:0;" width="28%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">Standard   Konversi Pakan</span></p>
</td>
<td style="width:10%;padding:0;" width="10%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">&#8212;</span></p>
</td>
<td style="width:10%;padding:0;" width="10%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">0,52</span></p>
</td>
<td style="width:11%;padding:0;" width="11%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">0,62</span></p>
</td>
<td style="width:10%;padding:0;" width="10%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">0,81</span></p>
</td>
<td style="width:12%;padding:0;" width="12%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">0,92</span></p>
</td>
<td style="width:10%;padding:0;" width="10%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">1,02</span></p>
</td>
<td style="width:9%;padding:0;" width="9%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">1,12</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">Waktu pemberian pakan  3-4 x/hari, diberikan pagi &#8211; siang &#8211; sore &#8211; Malam disebar merata.</span></p>
<p style="margin-right:0.5in;margin-left:0.5in;"><strong><span style="font-family:Arial;"><br />
<strong>TATA LAKSANA</strong></span></strong></p>
<div>
<table style="width:95%;margin-left:0.5in;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="95%">
<tbody>
<tr>
<td style="width:20%;padding:0;" width="20%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">Lokasi   Kolam</span></p>
</td>
<td style="width:80%;padding:0;" width="80%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">Bebas dari   pencemaran air / polusi, bebas banjir</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:20%;padding:0;" width="20%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">Konstruksi   Kolam</span></p>
</td>
<td style="width:80%;padding:0;" width="80%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">Konstruksi   kolam sebaiknya persegi panjang, bisa terbuat dari beton atau tanah, ±   kedalaman 125 cm, diisi air 100 cm</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:20%;padding:0;" width="20%">
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:12pt;"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">Penyiapan kolam</span></p>
</td>
<td style="width:80%;padding:0;" width="80%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">- Dasar   kolam berlumpur ± 10 cm sebaiknya dibalik / dicangkul<br />
- Pengeringan dilakukan 3-4 hari (tergantung cuaca), kemudian dikapur 100-150   gr/m<sup>2</sup> dan dipupuk ± 200gr/m<sup>2</sup></span></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:20%;padding:0;" width="20%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">Kedalaman   Air (cm)</span></p>
</td>
<td style="width:80%;padding:0;" width="80%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">Kolam   diairi sampai kedalaman 30-40 cm (tumbuh plankton), saat tebar 40-50cm,   minggu pertama 40-50 cm dinaikkan tiap 2 mingu sampai 100 cm.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:20%;padding:0;" width="20%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">Sumber Air</span></p>
</td>
<td style="width:80%;padding:0;" width="80%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">Terjaga   Mutu air dan kontinue.</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:20%;padding:0;" width="20%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">Penggantian   Air</span></p>
</td>
<td style="width:80%;padding:0;" width="80%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">Pergantian   air dilakukan secara hati hati dan tidak lebih dari 10%/hari</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:20%;padding:0;" width="20%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">Pemeriksaan   Kwalitas Air</span></p>
</td>
<td style="width:80%;padding:0;" width="80%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">Pemeriksaan   secara teratur</span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td style="width:20%;padding:0;" width="20%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">Fisika :</span></p>
</td>
<td style="width:80%;padding:0;" width="80%">
<p class="MsoNormal"><span style="font-size:7.5pt;font-family:Arial;">Temperatur   dari 28-3º C, Ph 6,5-7,5 Oksigen minimum 3 ppm.</span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p><!--[if gte vml 1]&gt;                    &lt;![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></p>
<div>
<table style="width:95%;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="95%">
<tbody>
<tr>
<td style="width:31%;padding:0;" width="31%">
<p class="MsoNormal"><!--[if !supportEmptyParas]--> <!--[endif]--></p>
</td>
<td style="width:69%;padding:0;" width="69%">
<div>
<table style="height:76px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="425">
<tbody>
<tr>
<td valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:100%;padding:0;" width="100%"></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:100%;padding:0;" width="100%"></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:100%;padding:0;" width="100%"></td>
</tr>
<tr>
<td style="width:100%;padding:0;" width="100%"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p class="MsoNormal">
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<div></div>
<h3 style="margin:3pt 0 0.0001pt;"><span style="font-size:17pt;font-family:Georgia;color:#333333;font-weight:normal;" lang="EN">Ternak ikan lele yuk! <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  </span></h3>
<p><span style="font-size:12pt;font-family:Georgia;color:#333333;" lang="EN">Usaha yang penulis ceritakan berikut boleh kalau mau dijadikan sambilan nambah penghasilan; atau mau dijadikan sebagai sekedar hobbies juga boleh. Kali ini tidak ada hubungan dengan teknologi canggih sedikitpun. Modal yang dibutuhkan juga kecil koq, 300-500 ribu an perak. Tapi syaratnya punya tanah/lahan yang kosong agak cukup luas, yaaa minimal 3 x 6 meter. Ini berdasarkan pengalaman pribadi (tinggal nunggu panen, nih) Ayo, coba ukur tanah samping/belakang rumahmu. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Usaha yang akan kita coba geluti adalah beternak ikan lele. Ikan ini cukup banyak penggemarnya di masyarakat (coba saja lihat warung-warung pecel lele Surabaya tuh, ramai terus kan). Nah modal awal, kita coba buat 1 kolam ukuran kecil 2m x 3m, gali tanah sedalam 30an cm, tanah galian urug-kan ke sekitar pinggir calon kolam. Terus beli terpal plastik yang banyak dijual di toko, seharga 50 ribuan (yang lebih mahal juga ada), tapi ini kualitasnya sudah cukup bagus. Pasang terpal plastik ke lubang kolam yang telah digali, kedalaman tanah 30 cm, tinggi permukaan tanah (dengan tanah urug sebelumnya) naik kan jadi 20-30 cm lebih tinggi dari tanah sekitarnya. Jadilah kolam kita yang berbiaya murah. Isilah dengan air jernih, biarkan selama 2-3 malam (jangan langsung ditaburi benih). Beri tanam-tanaman air juga bagus, semisal teratai, ganggang air, kangkung, dsb.<br />
Berikutnya, tinggal beli benih ikan lele, dengan ukuran sebesar ibu jari orang dewasa, harganya sekitar 100-150 rupiah per ekor. Coba isi kolam tadi dengan 300-400 ekor benih ikan lele. Beli pakan ikan (pelet) lembut, sekitar 5000 rupiah per kg. Sebulan mungkin menghabiskan sekitar 3 kg. Sebagian di atas kolam dibuat atap pelindung, juga bagus. Sebagian terkena cahaya langsung matahari. Kalau ada sisa nasi makan malam/siang, masukkan saja ke kolam, biar nambah-nambah zat makanan. Air kondisikan alami seperti di rawa/sungai, perbanyak tanaman air. Kalau di awal-awal menabur benih, sebagian ikan mati, jangan panik, ambil saja, buang. 3-4 hari berikutnya ikan akan bertahan hidup normal koq. Nah, tinggal menunggu sekitar 3 bulan, ikan sudah cukp besar untuk bisa dipanen, dijual dengan harga sekitar 1000 rupiah per ekor. Bikin saja tulisan di depan rumah &#8220;JUAL IKAN LELE KONSUMSI, SEGAR, GURIH&#8221; (hehehe). &#8230;. Bagaimana, asyiik kan?<br />
Kalau tanah cukup luas, berarti bisa bikin 2-3 kolam lagi yang serupa. Pakai terpal plastik juga (hemat biaya pasir dan semen, serta ongkos tukang &#8230;. ).<br />
Jangan lupa, perdalam ilmu memelihara ikan dengan menggali ilmu dari buku-buku di toko buku. Kisah di atas berdasarkan pengalaman sendiri &#8230;. (doakan panen nya berhasil ya)<br />
Selamat mencoba! (kalau stress, coba ambil pakan ikan, malam-malam menjelang maghrib, taburkan ke atas kolam, lihat betapa asyiknya melihat ikan-ikan berlomba memangsa makanan) &#8230;.. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sutanmuda.wordpress.com/151/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sutanmuda.wordpress.com/151/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sutanmuda.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sutanmuda.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sutanmuda.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sutanmuda.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sutanmuda.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sutanmuda.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sutanmuda.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sutanmuda.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sutanmuda.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sutanmuda.wordpress.com/151/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sutanmuda.wordpress.com&blog=1236765&post=151&subd=sutanmuda&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/10/liukan-bisnis-lele/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bbc0e24b4df5ca533a69b35c01641ddd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sutanmuda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Proses pemijahan di kolam pemijahan</title>
		<link>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/10/proses-pemijahan-di-kolam-pemijahan/</link>
		<comments>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/10/proses-pemijahan-di-kolam-pemijahan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 07:50:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sutanmuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budidaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sutanmuda.wordpress.com/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[Syarat kolam induk
 
1. Kolam dapat berupa tanah seluruhnya atau tembok sebagian dengan dasar tanah.
2. Luas bervariasi, minimal 50 m2.
3. Kolam terdiri dari dua bagian yaitu bagian dangkal (70%) dan bagian dalam (kubangan) 30% dari luas kolam. Kubangan ada di bagian tengah kolam dengan kedalaman 50-60 cm, yang berfungsi untuk bersembunyi induk, bila kolam disurutkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sutanmuda.wordpress.com&blog=1236765&post=148&subd=sutanmuda&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoPlainText" style="margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span style="font-family:&quot;color:black;">Syarat kolam induk</span></strong></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-family:&quot;color:black;"> </span><span style="font-family:Tahoma;color:black;"></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-21.75pt;margin:0 0 0.0001pt 21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Kolam dapat berupa tanah seluruhnya atau tembok sebagian dengan dasar tanah.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-21.75pt;margin:0 0 0.0001pt 21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Luas bervariasi, minimal 50 m<sup>2</sup>.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-21.75pt;margin:0 0 0.0001pt 21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span id="more-148"></span><span style="font-family:&quot;color:black;">3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Kolam terdiri dari dua bagian yaitu bagian dangkal (70%) dan bagian dalam (kubangan) 30% dari luas kolam. Kubangan ada di bagian tengah kolam dengan kedalaman 50-60 cm, yang berfungsi untuk bersembunyi induk, bila kolam disurutkan airnya. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-21.75pt;margin:0 0 0.0001pt 21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Pada sisi-sisi kolam ada sarang peneluran dengan ukuran 30cm x 30cm x 25cm, dari tembok yang dasarnya dilengkapi saluran pengeluaran terbuat dari pipa paralon diamneter 1 inchi untuk keluarnya benih ke kolam pendederan.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-21.75pt;margin:0 0 0.0001pt 21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Setiap sarang peneluran mempunyai satu lubang yang dibuat dari pipa paralon (PVC) ukuran kurang lebih 4 inchi untuk masuknya induk-induk lele.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-21.75pt;margin:0 0 0.0001pt 21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Jarak antarsarang peneluran kurang lebih 1 m.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-21.75pt;margin:0 0 0.0001pt 21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">7.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Kolam dikapur merata, lalu tebarkan pupuk kandang (kotoran ayam) sebanyak 500-750 gram/m<sup>2</sup>.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-21.75pt;margin:0 0 0.0001pt 21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">8.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Airi kolam sampai batas kubangan, biarkan selama empat hari. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-family:&quot;color:black;"> </span><span style="font-family:Tahoma;color:black;"></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span style="font-family:&quot;color:black;">Kolam rotifera</span></strong><span style="font-family:&quot;color:black;"> (cacing bersel tunggal)</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:8.5pt;font-family:Tahoma;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-22.5pt;margin:0 0 0.0001pt 22.5pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Letak kolam rotifera di bagian atas dari kolam induk berfungi untuk menumbuhkan makanan alami ikan (rotifera).</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-22.5pt;margin:0 0 0.0001pt 22.5pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Kolam rotifera dihubungkan ke kolam induk dengan pipa paralon untuk mengalirkan rotifera.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-22.5pt;margin:0 0 0.0001pt 22.5pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Kolam rotifera diberi pupuk organik untuk memenuhi persyaratan lingkungan tumbuh rotifera.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-22.5pt;margin:0 0 0.0001pt 22.5pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Luas kolam kurang lebih 10 m<sup>2</sup>. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-family:&quot;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span style="font-family:&quot;color:black;">Proses pemijahan</span></strong></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:8.5pt;font-family:Tahoma;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-21.75pt;margin:0 0 0.0001pt 21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Siapkan satu pasang indukan per sarang; atau satu pasang per 2-4 m<sup>2</sup> luas kolam (pilih salah satu).</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-21.75pt;margin:0 0 0.0001pt 21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Masukkan induk yang terpilih ke kubangan, setelah kubangan diairi selama empat hari.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-21.75pt;margin:0 0 0.0001pt 21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Masukkan makanan yang berprotein tinggi setiap hari seperti cacing, ikan runcah, pelet dan semacamnya, dengan jumlah berat makanan 2-3% dari berat total ikan yang ditebarkan .</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-21.75pt;margin:0 0 0.0001pt 21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Biarkan sampai 10 hari.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-21.75pt;margin:0 0 0.0001pt 21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Setelah induk dalam kolam selama 10 hari, air dalam kolam dinaikkan sampai 10-15 cm di atas lubang sarang peneluran atau kedalaman air dalam sarang sekitar 20-25 cm. Biarkan sampai 10 hari. Pada saat ini induk tak perlu diberi makan, dan diharapkan selama 10 hari berikutnya induk telah memijah dan bertelur. Setelah 24 jam, telur telah menetas di sarang, terkumpullah benih lele. Induk lele yang baik bertelur 2-3 bulan satu kali bila makanannya baik dan akan bertelur terus sampai umur lima tahun.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-21.75pt;margin:0 0 0.0001pt 21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Benih lele dikeluarkan dari sarang ke kolam pendederan dengan cara: air kolam disurutkan sampai batas kubangan, lalu benih dialirkan melalui pipa pengeluaran. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-21.75pt;margin:0 0 0.0001pt 21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">7.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Benih-benih lele berukuran 1-2 cm yang sudah dipindahkan ke kolam pendederan dengan kepadatan 60-100 ekor/m<sup>2</sup> diberi makanan secara intensif. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-21.75pt;margin:0 0 0.0001pt 21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">8.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Seekor induk lele dapat menghasilkan kurang lebih 2.000 ekor benih. Induk lele biasanya memijah sore hari atau malam hari.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-family:&quot;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span style="font-family:&quot;color:black;">Pemijahan di bak pemijahan secara berpasangan</span></strong></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-family:&quot;color:black;"> </span><span style="font-family:Tahoma;color:black;"></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span style="font-family:&quot;color:black;">Penyiapan bak pemijahan </span></strong></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:8.5pt;font-family:Tahoma;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-21.75pt;margin:0 0 0.0001pt 21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Buat bak dari semen atau teraso dengan ukuran 1m x 1m atau 1m x 2m dan tinggi 0,6 m.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-21.75pt;margin:0 0 0.0001pt 21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Bak dilengkapi kotak dari kayu ukuran 25cm x 40cm x 30cm tanpa dasar sebagai sarang pemijahan. Di bagian atas diberi lubang dan diberi tutup untuk melihat apakah ada telur dalam sarang. Bagian depan kotak/sarang pemijahan diberi enceng gondok supaya kotak menjadi gelap.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-21.75pt;margin:0 0 0.0001pt 21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Sarang pemijahan dapat dibuat pula dari tumpukan batu bata atau ember plastik atau barang bekas lain yang memungkinkan.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-21.75pt;margin:0 0 0.0001pt 21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Sarang bak pembenihan diberi ijuk dan kerikil untuk menempatkan telur hasil pemijahan.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-21.75pt;margin:0 0 0.0001pt 21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Sebelum bak digunakan, bersihkan/cuci dengan air dan bilas dengan formalin 40% atau KMnO<sub>4</sub> (dapat dibeli di apotik); kemudian bilas lagi dengan air bersih dan keringkan.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-family:&quot;color:black;"> </span><span style="font-family:Tahoma;color:black;"></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span style="font-family:&quot;color:black;">Pemijahan</span></strong></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-family:&quot;color:black;"> </span><span style="font-family:Tahoma;color:black;"></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-22.5pt;margin:0 0 0.0001pt 22.5pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Tebarkan satu pasang induk dalam satu bak setelah bak diisi air setinggi kurang lebih 25 cm. Sebaiknya airnya mengalir. Penebaran dilakukan pada jam 14.00–16.00.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-22.5pt;margin:0 0 0.0001pt 22.5pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Biarkan induk selama 5-10 hari, beri makanan intensif. Setelah kurang lebih 10 hari, diharapkan sepasang induk ini telah memijah, bertelur dan dalam waktu 24 jam telur-telur telah menetas. Telur-telur yang baik adalah yang berwarna kuning cerah.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-22.5pt;margin:0 0 0.0001pt 22.5pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Anak-anak lele yang masih kecil (stadium larva) tersebut diberi makan kutu air atau anak nyamuk dan setelah agak besar dapat diberi cacing dan telur rebus.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-family:&quot;color:black;"> </span><span style="font-family:Tahoma;color:black;"></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span style="font-family:&quot;color:black;">Pemijahan di bak pemijahan secara masal</span></strong></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-family:&quot;color:black;"> </span><span style="font-family:Tahoma;color:black;"></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span style="font-family:&quot;color:black;">Penyiapan bak pemijahan secara masal</span></strong></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:8.5pt;font-family:Tahoma;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-22.5pt;margin:0 0 0.0001pt 22.5pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Buat bak dari semen seluas 20 m<sup>2</sup> atau 50 m<sup>2</sup>, ukuran 2m x10m atau 5m x 10m.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-22.5pt;margin:0 0 0.0001pt 22.5pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Di luar bak, menempel dinding bak dibuat sarang pemijahan ukuran 30cm x 30cm x 30cm, yang dilengkapi dengan saluran pengeluaran benih dari paralon berdiameter 1 inchi. Setiap sarang dibuatkan satu lubang dari paralon berdiameter 4 inchi.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-22.5pt;margin:0 0 0.0001pt 22.5pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Dasar sarang pemijahan diberi ijuk dan kerikil untuk tempat menempel telur hasil pemijahan.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-22.5pt;margin:0 0 0.0001pt 22.5pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Sebelum digunakan, bak dikeringkan dan dibilas dengan larutan desinfektan atau formalin, lalu dibilas dengan air bersih; kemudian keringkan.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-family:&quot;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin:0 0 0.0001pt;"><strong><span style="font-family:&quot;color:black;">Pemijahan</span></strong><span style="font-size:8.5pt;font-family:Tahoma;color:black;"></span></p>
<p class="MsoPlainText" style="margin:0 0 0.0001pt;"><span style="font-size:8.5pt;font-family:Tahoma;color:black;"> </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-21.75pt;margin:0 0 0.0001pt 21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Tebarkan induk lele yang terpilih (matang telur) dalam bak pembenihan sebanyak dua kali jumlah sarang, induk jantan sama banyaknya dengan induk betina atau dapat pula ditebarkan 25-50 pasang untuk bak seluas 50 m<sup>2</sup> (5m x 10m), setelah bak pembenihan diairi setinggi 1 m.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-21.75pt;margin:0 0 0.0001pt 21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Setelah 10 hari induk dalam bak, surutkan air sampai ketinggian 50-60 cm, induk beri makan secara intensif.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-21.75pt;margin:0 0 0.0001pt 21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Sepuluh hari kemudian, air dalam bak dinaikkan sampai di atas lubang sarang sehingga air dalam sarang mencapai ketinggian 20-25 cm. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-21.75pt;margin:0 0 0.0001pt 21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Saat air ditinggikan diharapkan induk-induk berpasangan masuk sarang pemijahan, memijah dan bertelur. Biarkan kurang lebih 10 hari. </span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-21.75pt;margin:0 0 0.0001pt 21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Sepuluh hari kemudian air disurutkan lagi, dan diperkirakan telur-telur dalam sarang pemijahan telah menetas dan menjadi benih lele.</span></p>
<p class="MsoPlainText" style="text-align:justify;text-indent:-21.75pt;margin:0 0 0.0001pt 21.75pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-family:&quot;color:black;">6.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-family:&quot;color:black;">Benih lele dikeluarkan melalui saluran pengeluaran benih untuk didederkan di kolam pendederan.</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sutanmuda.wordpress.com/148/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sutanmuda.wordpress.com/148/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sutanmuda.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sutanmuda.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sutanmuda.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sutanmuda.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sutanmuda.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sutanmuda.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sutanmuda.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sutanmuda.wordpress.com/148/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sutanmuda.wordpress.com/148/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sutanmuda.wordpress.com/148/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sutanmuda.wordpress.com&blog=1236765&post=148&subd=sutanmuda&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/10/proses-pemijahan-di-kolam-pemijahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bbc0e24b4df5ca533a69b35c01641ddd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sutanmuda</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>NILA GIFT, NILA YANG DIJANTANKAN</title>
		<link>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/10/nila-gift-nila-yang-dijantankan/</link>
		<comments>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/10/nila-gift-nila-yang-dijantankan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jul 2008 07:37:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sutanmuda</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budidaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sutanmuda.wordpress.com/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Makin pintar orang, makin tega ia memanipulasi kelamin makhluk lain. Korban manipulasi dalam kisah ini ialah ikan nila. Ikan betina mestinya hidup sebagai betina, tetapi disuruh menjadi jantan agar tumbuh lebih maskulin. 
Hasil manipulasi kelamin diedarkan sebagai nila gift (genetic improvement of farmed tilapia). Orang melakukan hal ini karena ikan nila jantan lebih pesat tumbuhnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sutanmuda.wordpress.com&blog=1236765&post=146&subd=sutanmuda&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;font-family:&quot;">Makin pintar orang, makin tega ia memanipulasi kelamin makhluk lain. Korban manipulasi dalam kisah ini ialah ikan nila. Ikan betina mestinya hidup sebagai betina, tetapi disuruh menjadi jantan agar tumbuh lebih maskulin</span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-146"></span><span style="font-size:10pt;color:black;">Hasil manipulasi kelamin diedarkan sebagai nila gift (<em>genetic improvement of farmed tilapia</em>). Orang melakukan hal ini karena ikan nila jantan lebih pesat tumbuhnya daripada ikan betina. Ikan betina selalu kurus karena terpaksa berpuasa berhari-hari selama mulutnya dipakai sebagai mesin tetas. Induk nila memang ikan pengeram mulut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;color:black;">Dulu dengan pemisahan seks</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:black;">Keinginan untuk memelihara ikan jantan saja dulu sudah pernah dilakukan secara manusiawi. Anak-anak ikan nila yang mulai jelas tanda kelaminnya dipisah. Anak jantan dipelihara dalam kolam khusus ikan jantan, dan anak betina dipelihara dalam kolam khusus ikan betina.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:black;">Cara ini setelah berjalan beberapa tahun ternyata masih banyak salahnya. Ada beberapa ikan betina yang dikira ikan jantan oleh pekerja <em>sexing</em> (pemisahan seks), lalu dimasukkan ke kolam ikan jantan. Ikan betina salah parkir ini menjadi primadona juwita nila yang diuber-uber para ikan jantan. Akhirnya, ikan jantan tidak sempat tumbuh tetapi menghabiskan waktu untuk berebut pacar betina saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:black;">Karena itu, di kolam pemeliharaan yang modern, usaha penggemukan ikan jantan tidak dilakukan dengan <em>sexing</em> lagi, tetapi penyeragaman seks.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;color:black;">Ikan mesir dari Nil</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:black;">Ngomong-omong, ikan nila yang sedang diperbincangkan ini bukan jenis ikan pribumi Indonesia. Ia dimasukkan pertama kali ke Indonesia dari Lukang Research Station Taiwan, oleh Lembaga Penelitian Perikanan Darat Bogor pada tahun 1969. Sebelumnya, ikan nila warga negara Taiwan itu dimasukkan dari Afrika. Tujuannya untuk memperkaya jenis ikan budidaya setempat yang nilai jualnya tinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:black;">Daerah penyebarannya Sungai Nil di Mesir, sampai ia disebut <em>Tilapia nilotica</em>. Di kalangan ilmuwan ikan, nama <em>Tilapia nilotica</em> dikoreksi, dan diminta ditulis <em>Oreochromis niloticus</em>. Alasannya, berdasarkan perilaku pemijahan (perkawinan), suku Tilapiinae terbagi atas dua kelompok. Pertama, ikan-ikan pengeram mulut (seperti <em>Oreochromis</em> dan <em>Sarotherodon</em>), dan kedua, para pemijah dasar (seperti <em>Tilapia</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:black;">Karena ikan nila itu pengeram mulut, maka ia harus dimasukkan ke kelompok pertama, dan diberi nama <em>Oreochromis</em> atau <em>Sarotherodon</em>. Begitulah pertimbangan pakar ikan Trevawas yang ingin menertibkan pemberian nama Latin itu, dalam <em>Tilapiine Fishes of the Genera Sarotherodon, Oreochromis, and Danakila</em>, British Museum of Natural History (1983).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size:10pt;color:black;">Oreochromis</span></em><span style="font-size:10pt;color:black;"> yang tulen memang seratus persen memijah di lapisan air daerah atasan, dan membuahi telur dalam air juga, sebelum induk betina mengeramnya di dalam mulut. Sebaliknya, <em>Tilapia</em> yang tulen, seratus persen memijah dalam lubang galian di dasar, dan membuahi telur dalam lubang itu juga sebelum mencakup telur dalam mulut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:black;">Sial sekali, <em>Tilapia nilotica</em> ternyata plin-plan memakai kedua cara itu sekaligus. Mula-mula menggali lubang, tetapi telurnya tidak ditaruh di situ, melainkan dalam air di atasnya. Dibuahinya pun ketika melayang-layang dalam air di atas lubang itu. Lubang dipakai sebagai tempat upacara saja.<br />
Karena itu, dalam buku ikan terbitan mutakhir, ikan itu disebut dengan tiga nama. Nama baru <em>Oreochromis</em> dan <em>Sarotherodon</em>, dan nama lama <em>Tilapia</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:black;">Untuk keperluan penyebarluasan teknik manipulasi genetik, ikan itu masih tetap disebut nila gift (<em>genetic improvement of farmed tilapia</em>). Bukan nila gifo (<em>genetic improvement of farmed oreochromis</em>).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:black;">Akan tetapi untuk memenuhi aspirasi Trevawas yang ingin menertibkan nama ilmiah, ikan nila disebut <em>Oreochromis niloticus</em> saja, terutama di tempat-tempat yang sulit dijangkau oleh orang awam, seperti perpustakaan museum misalnya, atau Perguruan Tinggi &#8220;Menara Gading&#8221;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;color:black;">Pengeram mulut sekaligus pemijah dasar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:black;">Ikan nila jantan yang sudah cukup umur (empat bulan) dan <em>ngebet</em> mau kawin, akan mencari tempat yang datar dan bersih di dasar kolam. Itu dinyatakannya sebagai wilayah kekuasaan yang dipertahankannya sampai titik darah penghabisan. Kalau tak ada perjaka lain yang merongrong lagi, ia akan menggali lubang di tempat itu dengan mulutnya. Itu dijadikan mahligai perkawinan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:black;">Ikan betina yang sudah &#8220;masak telur&#8221; akan segera mengeluarkan sekelompok telur di atas lubang itu. Tetapi kemudian ia memutar badannya untuk mencakup kelompok telur itu dengan mulutnya. Maksudnya, agar telur dapat dibuahi dengan seksama nanti kalau ia berenang di belakang suaminya sambil <em>mengemut</em> telur, tetapi tempo-tempo membuka lubang mulut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:black;">Sejak itu, mulutnya menjadi mesin tetas. Ia terpaksa berpuasa sehingga badannya kurus. Sialnya, ia pun diusir dari lubang itu oleh bekas suaminya. Tega benar! Mantan suami ini sibuk melitsus. Hanya juwita nila yang sudah &#8220;masak telur&#8221; yang boleh masuk lubang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:black;">Setelah tiga hari, menetaslah telur itu, tetapi anak-anak masih tetap ingin berlindung dalam rongga mulut induknya. Mereka memang belum becus berenang. Baru setelah 12 hari, mereka dibiarkan keluar dari mulut induk untuk belajar berenang di luar. Kalau ada bahaya, segera mulut itu mengisap mereka kembali. Seperti anak-anak ayam yang sedang diasuh induknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;color:black;">Dicelup jadi jantan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:black;">Masuknya ikan nila ke Indonesia jelas menguntungkan karena masyarakat mendapat ikan gemuk yang berdaging tebal. Dalam tempo empat bulan saja, ikan jantan sudah mencapai bobot setengah kilo. Lebih gemuk daripada ikan mujair, dan lebih kencang dagingnya daripada ikan mas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:black;">Berbeda dengan mujair, tubuh ikan nila lebih tinggi, sehingga dagingnya lebih banyak. Daging ini putih, tebal, padat, dan tidak berduri, sehingga sangat digemari di luar negeri sebagai <em>fillet</em> ikan. Kira-kira sepadan dengan <em>fillet</em> ikan kakap.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:black;">Peluang bisnis ini segera disambar oleh perusahaan perikanan modern, termasuk perusahaan multinasional. Mereka mengawinkan induk ikan nila dalam kolam pemijahan untuk memperoleh benih. Benih (yang disebut <em>larva</em>) ikan selembut 0,5 &#8211; 1 cm (berumur seminggu) ini dicelup dalam bak plastik berisi larutan hormon kelamin jantan sintetik metil-testosteron dalam alkohol 95%, sepekat 2 mg/l air. Satu liter larutan dapat dipakai untuk 100 ekor benih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:black;">Sesudah direndam selama 6 &#8211; 8 jam, mereka sudah cukup kerasukan hormon di seluruh tubuhnya, dan dapat ditebar ke dalam kolam pendederan (pembenihan). Pasti benih nila yang sekarang disebut nila gift itu akan tumbuh menjadi ikan jantan semua. Ini karena perbandingan hormon kelamin jantan androgen (testosteron) dalam tubuhnya lebih tinggi daripada hormon kelamin betina estrogen.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span style="font-size:10pt;color:black;">Kerja sama mitra usaha</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:black;">Tugas mendeder (membesarkan <em>larva</em> ikan) dilakukan sendiri oleh perusahaan dalam kolam pendederan. Ada juga perusahaan yang menyerahkan tugas ini kepada petani ikan yang dijadikan mitra usaha perusahaan. Pendederan selama 45 hari menghasilkan benih ikan 3 &#8211; 5 cm. Ini dijual kepada petani ikan lain yang membesarkannya lebih lanjut dalam kolam terapung di danau dan waduk pengairan yang dalam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:black;">Kolam terapung ini dibuat dari jaring nilon atau serat sintetik lainnya, berbentuk petak persegi panjang yang ditenggelamkan dalam air danau. Dasarnya ditutup dengan jaring pula sehingga ia mirip bak terapung yang terbuka bagian atasnya. Supaya dapat tenggelam, jaring diberi pemberat bagian bawahnya tetapi diberi pelampung di bagian atasnya, berupa beberapa drum kosong yang sudah dilas rapat-rapat. Jaring persegi berukuran 7 x 7 x 1 m ini tidak sampai mencapai dasar danau tetapi mengapung dekat permukaan, sampai disebut juga jaring terapung. Tenggelamnya hanya duapertiga bagian.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:black;">Untuk menuju ke kolam yang letaknya agak jauh di tengah danau, diperlukan perahu untuk mengangkut alat pemeliharaan dan pakan ikan. Untuk menyimpan alat dan pakan, serta berlaku sebagai tempat berteduh kalau ada hujan lebat, dibangun gubuk beratap di atas tempat pertemuan pematang kolam. Pematang ini juga mengapung di atas drum-drum kosong.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:black;">Benih 3 &#8211; 5 cm dibesarkan dalam kolam (jaring) terapung ini selama 45 hari menjadi benih besar yang disebut <em>sangkal</em> berukuran 7 &#8211; 8 cm. Ikan berumur tiga bulan ini belum dapat dijual sebagai ikan konsumsi. Karena itu perlu digemukkan lagi dalam kolam terapung yang lebih dalam, berukuran 7 x 7 x 2,5 m. Digemukkan selama 45 hari, para <em>sangkal</em> menjadi ikan konsumsi 250 &#8211; 500 g per ekor.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:black;">Ikan berumur sekitar empat bulan ini ada yang sudah cukup besar untuk diekspor (500 g) dan ada yang belum (250 g). Perbedaan bobot ini bisa terjadi karena mereka diberi pakan ikan berupa pelet yang disebar di permukaan air, sampai mereka terpaksa berebut. Ada yang selalu menang menyambar pakan dan cepat gemuk, dan ada yang selalu kalah sehingga pertumbuhannya terbelakang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;color:black;">Mereka yang terbelakang ini digemukkan lebih lanjut dalam kolam terapung selama 45 hari lagi, agar mencapai bobot 500 &#8211; 700 g per ekor. Cukup besar sudah, untuk diekspor dalam bentuk <em>fillet</em> ikan beku.</span></p>
<p><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;">Cara pemeliharaan secara berantai itu kini juga dilakukan oleh para petani ikan yang bukan mitra usaha perusahaan pengekspor <em>fillet</em> nila, tetapi berkongsi sendiri sebagai kelompok agribisnis perikanan. Ada petani ikan yang menangani tugas pemijahan induk saja untuk menghasilkan larva ikan. Ada yang mendedernya menjadi benih 3 &#8211; 5 cm saja, ada yang membesarkannya dalam kolam terapung menjadi <em>sangkal</em> 7 &#8211; 8 cm, dan ada yang menggemukkannya menjadi ikan konsumsi 250 g. Sampai di sini, hasilnya sudah habis terjual di pasar dalam negeri. Rakyat Indonesia sendiri memang perlu makan ikan yang lezatnya seperti ikan luar negeri (dari dalam negeri). <strong>(Slamet Soeseno)</strong></span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sutanmuda.wordpress.com/146/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sutanmuda.wordpress.com/146/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sutanmuda.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sutanmuda.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sutanmuda.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sutanmuda.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sutanmuda.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sutanmuda.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sutanmuda.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sutanmuda.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sutanmuda.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sutanmuda.wordpress.com/146/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sutanmuda.wordpress.com&blog=1236765&post=146&subd=sutanmuda&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sutanmuda.wordpress.com/2008/07/10/nila-gift-nila-yang-dijantankan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bbc0e24b4df5ca533a69b35c01641ddd?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">sutanmuda</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>